Masyarakat Lipat Kain Antusias Hadiri Festival Equator

Harijal - Minggu, 18 Desember 2016 14:47 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2016/12/0b26b6122016_masyarakatlipatkain.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
riauterkini.com
Masyarakat Lipat Kain Antusias Hadiri Festival Equator

PEKANBARU, kabarmelayu.com - Equator Festival di Lipat Kain, Kampar dihadiri ratusan masyarakat dari berbagai lapisan. Nama Equator Festival sendiri diambil dari garis khatulistiwa yang melintasi daerah ini dengan ditandai adanya simbol Tugu Khatulistiwa berdiri gagah di kota yang dulunya masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Gunung Sahilan.

Berbagai rangkaian acara ditampilkan pada acara Equator Festival ini. Seperti lomba rebana oleh ibu-ibu tempatan, lomba menimang dalam bentuk syair, lomba kendaraan hias.

"Festival Equator ini baru kali pertama digelar. Berbagai rangkaian acara kita tampilkan untuk mengangkat potensi pariwisata khususnya di Lipat Kain ini," kata Panitia acara Dodi RA, Ahad (18/12/16).

Khusus untuk kendaraan hias papar Dodi, merupakan sebagai simbol, dimana pada zaman Kerajaan Gunung Sahilan dulu, seorang raja biasanya meninjau daerah kekuasaannya menggunakan Piau Bakajang (perahu sampan) di Sungai Kampar.

Selain Piau Bakajang yang digunakan raja, diiringi Piau Bakajang lainnya oleh para petinggi kerajaan. Namun karena sekarang ini sungai ini sudah dicemari oleh aktifitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), maka refleksi itu pun dialihkan ke darat melalui simbol kendaraan hias.

"Ini sebenarnya bentuk sindiran kita, karena memang sungai kita sudah dicemari kegiatan PETI yang dulu tak pernah dituntaskan diselesaikan. Makanya karena Piau Bakajang di sungai tak memungkinkan, makanya untuk merefleksinya kita alihkan ke darat menggunakan kendaraan hias," sindir Dodi.

Nantinya, arak-arakan kendaraan hias ini akan dimulai dari Gedung Kerapatan Adat Lipat Kain, kemudian menyisiri jalan raya Lipat Kain menuju SPBU, kemudian berputar berputar menuju jembatan kembar yang ada di daerah ini. Ada pun selain itu, tujug destinasi unggulan yang ada di Lipat kain juga dipromosikan, seperti pertama, Alam Bendungan (waduk besar) terletak di di Sungai Paku.

Kedua, Desa Sawah terletak di Sungai Geringging, Takau Godang-Kota Tuo. Ketiga, Gerbong Kereta Api di seberang sungai Pulau Tonga, keempat, Air Terjun Koboko yang terletak di Bukit Balam, kelima Tugu Equator (tugu katulistiwa), keenam Balai Kerapatan Adat Lipat Kain serta ke tujuh Mesjid Raya Al Mizan.

 

(riauterkini.com)

 

Berita Terkait

Wisata

Fraksi PKS DPRD Riau Dorong Pembahasan Perda LGBT Disegerakan

Wisata

Ancam Warga, Pria di Tapung Hulu Lepaskan Tembakan Saat Dikejar Anggota TNI

Wisata

Diguyur Hujan Sejak Sore, Malam Ini Atmosfer Pekanbaru Kembali Biru

Wisata

Fahriansyah, ASN Pekanbaru yang Dipercaya Melatih Petugas Pemadam Kebakaran Berbagai Provinsi

Wisata

Bertandang ke Pakansari, PSPS Pekanbaru Tundukkan Persikad 3-2

Wisata

Polresta Pekanbaru Bersama Tokoh Masyarakat Deklarasi Bersama Wujudkan Lingkungan Bersih Narkoba