Supermoon Terakhir di 2019 Terjadi Malam Ini

Harijal - Kamis, 21 Maret 2019 19:14 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/03/ad6bcc032019_000untitled2.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(AFP PHOTO / NICOLAS TUCAT)
Supermoon

JAKARTA - Bulan kembali akan ada pada posisinya yang paling dekat dengan Bumi pada hari ini, 21 Maret 2019. Rhorom Priyatikanto, peneliti LAPAN menyebut fenomena akan menjadi Supermoon yang terakhir untuk tahun 2019.

Fenomena yang dikenal sebagai Supermoon ini membuat Bulan akan terlihat bersinar lebih terang, dan terlihat lebih besar dari ukuran malam-malam sebelumnya.

Anda dapat melihat peristiwa supermoon ini menggunakan mata telanjang malam ini, akan tetapi untuk dapat melihat ukuran Bulan yang lebih besar, anda harus menggunakan teropong untuk melihat bulan, dan membandingkannya dengan ukuran bulan normal. 

Lihat juga: FOTO: Terang Supermoon di Berbagai NegaraRhorom mengatakan bahwa masyarakat Indonesia akan dapat melihat fenomena Supermoon ini sejak terbitnya Bulan pukul 18:00 WIB hingga 06:00 WIB keesokan harinya. 

"Bila cerah, Supermoon bisa diamati sepanjang malam. Terbit sekitar pukul 18, tenggelam sekitar pukul 6 besok pagi. Tidak ada perubahan kasat mata sepanjang malam, sehingga waktu puncak tidak relevan," tulis Rhorom ketika dihubungi melalui pesan teks oleh CNN Indonesia, hari kamis (21/3). 

"Bila bicara akurasi tinggi, titik terdekat purnama terjadi tanggal 21, pukul 08:44 WIB, akan tetapi bulan sedang di bawah ufuk Indonesia," lanjutnya.

Dengan demikian otomatis titik terdekat Bulan ini tidak bisa dilihat oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, Rhorom menjelaskan untuk dapat melihat ukuran bulan yang lebih besar, diperlukan semacam alat bantu, atau foto perbandingan. 

Lihat juga: 'Merapal' Kehidupan Setiap Zodiak Akibat Fenomena Supermoon"Hampir tidak mungkin membandingkan ukuran supermoon tanpa alat bantu. Namun, bila kita punya potret purnama biasa dan supermoon, maka perbedaan ukuran keduanya dapat terlihat ketika disandingkan," tuturnya.

Rhorom juga menambahkan himbauan terkait gelombang pasang yang kemungkinan akan terjadi bersamaan dengan siklon Trevor dan siklon Veronica, dan menyebabkan gelombang pasang tinggi. 

"Saat supermoon, pasang surut pasti lebih tinggi dan masyarakat pesisir perlu memperhatikannya. Adanya siklon (Trevor dan Veronica) di sebelah selatan kepulauan Indonesia dapat menambah potensi gelombang tinggi di pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia," tulis Rhorom. 

(cnnindonesia.com)

Berita Terkait

Iptek

Ternyata Wabup Kuansing Sempat Diperiksa KPK Saat OTT Bupati dan Sekda

Iptek

Lapas Bagansiapiapi Terima Kunjungan Kakanwil Ditjenpas Riau

Iptek

Mukhlisin Terima SK Plt Bupati Kuansing

Iptek

Hadapi Perang Modern, Panglima TNI Pimpin Pengesahan Doktrin "Perisai Trisula Nusantara"

Iptek

Bupati Siak Afni Zulkifli Masuk Daftar 22 Sosok Reset Indonesia

Iptek

Pemkab Bengkalis Gelar Kick Off Bulan Vaksinasi Rabies 2026