Keistimewaan Bulan Merah Darah 31 Januari 2018

Harijal - Senin, 29 Januari 2018 09:34 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2018/01/a8ce0a012018_0000mpscdc0hu8lvj92dacpo.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Bulan Merah Darah (Foto: Shutterstock)

Bulan merah darah. 

Mendengar namanya saja sudah cukup menggugah hati kita. Bayangkan jika kita bisa menikmati penampakan Bulan merah darah (blood moon) alias gerhana Bulan total itu secara langsung dengan menggunakan mata kepala kita sendiri.

Penampakan Bulan merah darah yang sebentar lagi akan terjadi, tepatnya pada 31 Januari 2018, telah dinanti banyak orang. Mulai dari organisiasi astronomi amatir, hingga para fotografer di seluruh penjuru Indonesia. 

Bahkan, masyarakat umum pun tak ingin ketinggalan untuk menikmati gerhana Bulan total yang satu ini.

Pasalnya, gerhana Bulan total yang akan terjadi pada 31 Januari ini bukanlah gerhana biasa. Para ahli mengatakan, fenomena yang satu ini merupakan fenomena yang istimewa.

Menurut Thomas Djamaluddin, kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), fenomena ini cukup istimewa karena ada beberapa kejadian yang terjadi secara bersamaan.

"Jadi gabungan antara supermoon, karena jarak purnamanya yang terdekat. Disebut juga sebagai blue moon karena ini purnama kedua pada bulan Januari. Dan terjadi gerhana bulan total yang menyebabkan Bulan itu menjadi merah darah sehingga disebut sebagai blood moon," terang Thomas saat dijumpai kumparan (kumparan.com) di ruang kerjanya di Jakarta 

Namun begitu, Thomas menambahkan, sebenarnya fenomena ini bukanlah suatu fenomena langka dalam bidang astronomi. 

"Karena sebutannya saja itu menjadi langka," ujar Thomas merujuk pada nama super blue blood moon yang disandang pada fenomena yang akan terjadi di 31 Januari ini.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa keberulangan terjadinya tiga kejadian supermoon, blue moon, dan blood moon dalam satu waktu memang langka, yakni hanya terjadi sekitar 150 tahun sekali.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Hakim L. Malasan, astronom di ITB yang pernah memimpin Observatorium Bosscha.

Saat dihubungi kumparan melalui sambungan telepon, Hakim menuturkan bahwa kejadian Bulan merah darah pada 31 Januari ini memang cukup unik.

"Koinsidensi dari tiga hal seperti itu (supermoon, bluemoon, gerhana Bulan total) hanya bisa berulang 150 tahunan sekali," jelas Hakim.

Tiga fenomena yang terjadi bersamaan ini nantinya akan memberikan sebuah pemandangan yang cukup spektakuler. 

Menurut Eko Wahyu Wibowo, Kepala Satuan Pelaksana Teknis Pertunjukan dan Publikasi Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Bulan merah darah di akhir Januari ini akan terlihat memukau.

"Jadi (Bulan) terlihat lebih jelas dan lebih indah," kata Eko saat ditemui kumparan di kantornya di Jakarta.

Ia menjelaskan, hal itu terjadi karena gerhana Bulan total ini bersamaan dengan supermoon yang membuat Bulan tampak lebih besar. 

(kumparan.com)

Berita Terkait

Iptek

DLHK Inhil Jangan Tunggu Aduan, 40 Dapur MBG Harus Diawasi Ketat

Iptek

Mediasi Sengketa Informasi Disdik Riau dan Zonny Hundri Capai Kesepakatan

Iptek

15 Kendaraan Operasional untuk OP Kecamatan, Kinerja Terbaik Dijanjikan Bonus hingga Umrah

Iptek

Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 6,94 Kilogram Sabu dan 969 Cartridge Etomidate

Iptek

Hendry Munief Dorong Penguatan Industri Film Nasional dan Konsolidasi Pembangunan Riau

Iptek

Puluhan Lapak PKL di HR Subrantas Pekanbaru Dibongkar