Kreatif, Dosen Unilak Gelar Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer dari Limbah Kulit Buah

Harijal - Selasa, 08 Juni 2021 19:21 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2021/06/b85fbb062021_untitled13.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
istimewa

PEKANBARU - Bila biasanya sampah rumah tangga terutama sampah organik menjadi permasalahan bagi sejumlah warga, namun sampah rumah tangga bisa disulap menjadi produk yang bernilai ekonomis. Hal ini dilakukan oleh dosen Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru kepada masyarakat yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Berkah Abadi di Kelurahan Limbungan Pekanbaru, Riau. 

Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan oleh dosen Fahutan Unilak, dengan menggunakan limbah kulit buah bisa dibuat menjadi produk hand sanitizer dan desinfektan yang cocok dengan situasi pademik COVID-19 saat ini.

Tim PKM Fahutan Unilak diketuai oleh Dr. Rina Novia Yanti,  mengatakan bahwa sampah organik khususnya kulit buah-buahan yang selama ini dibuang begitu saja, bisa diolah menjadi produk eco enzyme.

"Produk eco enzyme ini tidak hanya bisa digunakan untuk hand sanitizer dan desinfektan, namun juga bisa digunakan untuk berbagai manfaat di antaranya untuk mencuci perabotan rumah tangga, pembersih WC, pembersih lantai, pengganti detergen atau sabun dan obat penyembuh luka. Jadi sangat bernilai ekonomis bila diolah dengan benar imbuhnya disela-sela acara pelatihan yang dilaksanakan minggu 1 Juni 2021." ujar Rina, Selasa (8/6/2021) melalui keterangan resmi.

Dijabarkan Dr. Rina, Proses pembuatan Eco Enzyme sangat mudah asal dibuat dengan telaten dan butuh kesabaran, karena eco enzym baru bisa dipanen setelah 3 bulan penyimpanan. Dalam proses pembuatannya, membutuhkan bahan-bahan yang tidak terpakai lagi. Bahan tersebut antara lain 10 liter air, bahan organik 1.800 gram (kulit nanas, apel, pir, papaya, jeruk, pisang, daun kelor, sawi/pakcoy), dan gula merah 600 gram.

"Semua bahan yang telah disebutkan dicampur dalam suatu wadah kedap udara dan difermentasi selama 3 bulan.Tujuannya adalah untuk menghasilkan suatu produk yang berkualitas. Produk eco enzyme murni, kalau mau dipakai untuk berbagai keperluan tinggal ditambahkan air. Untuk hand sanitizer 1 banding 3 yaitu 1 bag eco enzyme ditambah 3 bagian air bersih," jalasnya.

Dijelaskan Dr Rina, beberapa manfaat Eco Enzyme antara lain bisa membantu mengurangi limbah atau sampah organik basah sehingga zero waste, membantu menyadarkan masyarakat pentingnya penggunaan pembersih rumah tangga termasuk disinfektan yang ramah lingkungan.

"Saat kegiatan kami juga membawa contoh Eco Enzym, peserta dapat melihat dan merasakan dari Eco Enzym ini, ujarnya. 

Dalam kegiatan PKM itu, seluruh peserta sangat antusias untuk belajar seperti yang diceritakan oleh salah peserta yaitu Wilda Oktavia, menurutnya kegiatan dari dosen Fahutan ini bermanfaat dan membantu. 

"Saya juga baru tau sampah kulit buah ternyata bisa dibuat handsanitizer, pembersih lantai dab lainya, tentunya ini berguna," tandasnya.(MCR)

Berita Terkait

Iptek

Prosedur Pemindahan Warga Binaan, Kalapas Bagansiapiapi Kedepankan Asas Pembinaan

Iptek

Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau, Hendry Munief Beri Catatan Penting

Iptek

Bupati Inhil Bangun Pasar Induk Yos Sudarso yang Megah, Pedagang Pasar Subuh Pindah ke Lokasi Baru

Iptek

Dua Petinju Pekanbaru Sabet Medali Emas Kejuaraan Danlanud Bangka Belitung ‎

Iptek

RSUD Arifin Achmad Berhasil Tangani Kasus Menouria Langka, Pasien Kini Dapat Haid Normal

Iptek

Musrenbang RKPD Riau 2027, DPRD: Tahun Depan Kembali Normal