NASA Temukan Struktur Helium di Atmosfer Matahari

Harijal - Selasa, 11 Agustus 2020 02:17 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/08/15c6c7082020_untitled4.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Foto: ESA NASA via AFP)
Ilustrasi struktur helium di atmosfer Matahari.

JAKARTA - Roket investigasi NASA mengklaim menemukan struktur Helium pada atmosfer matahari. Helium adalah unsur paling melimpah kedua di alam semesta setelah hidrogen.

Para ilmuwan mengaku belum mengetahui berapa banyak jumlah Helium yang ada di atmosfer matahari. Mereka beralasan pengukuran Helium pada atmosfer Matahari sulit dilakukan.

Melansir SciTech Daily, Senin (10/8), peneliti mengatakan pengamatan menemukan rasio yang jauh lebih rendah dari yang diperkirakan saat mengukur rasio helium dan hidrogen dalam angin matahari saat mencapai bumi.

Para ilmuwan menduga helium yang hilang mungkin tertinggal di lapisan atmosfer terluar matahari, yang disebut korona atau mungkin di lapisan yang lebih dalam.

Peneliti mengatakan jumlah helium di atmosfer Matahari merupakan hal yang penting untuk memahami asal dan percepatan angin Matahari.

Untuk mengukur jumlah helium dan hidrogen di atmosfer, roket investigasi NASA yang bernama HERSCHEL mengambil gambar dari korona matahari. Pengamatan HERSCHEL menunjukkan bahwa helium tidak terdistribusi secara merata di sekitar korona. Daerah ekuator hampir tidak memiliki helium, sedangkan daerah di garis lintang tengah banyak.

Membandingkan dengan gambar dari ESA / NASA`s Solar and Heliospheric Observatory ( SOHO ), para ilmuwan mampu menunjukkan limpahan helium di tengah garis lintang yang tumpang tindih dengan garis medan magnet matahari.

Hal ini menunjukkan bahwa rasio helium terhadap hidrogen sangat erat kaitannya dengan medan magnet dan kecepatan angin matahari di korona.

Diberitakan Phsy, roket HERSCHEL menambah upaya untuk memahami asal-usul komponen angin matahari. HERSCHEL dari jarak jauh menyelidiki komposisi unsur wilayah tempat angin matahari dipercepat.

Pada kesimpulamn awal, peneliti menyebut Helium memberi daya pada elemen paling ringan, yakni proton hidrogen terionisasi untuk melepaskan diri dari Matahari.

Di masa depan, para ilmuwan berencana melakukan lebih banyak pengamatan untuk menjelaskan perbedaan jumlah Helium di Matahari.

Dua instrumen baru, yakni Metis dan EUI diklaim mampu melakukan pengukuran kelimpahan global yang serupa dan akan membantu memberikan informasi baru tentang rasio helium di korona matahari.

(CNNIndonesia.com)

Berita Terkait

Iptek

Satreskrim Polres Pelalawan Ungkap Kasus Galian C Ilegal di Kerumutan

Iptek

HUT RI ke-81, Ditbinmas dan Bid Humas Polda Riau Bersama Jurnalis Satukan Semangat Merah Putih

Iptek

Mobil Langsir BBM Terbakar di SPBU Lintas Timur, Polisi Didesak Usut Tuntas!

Iptek

Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat

Iptek

Ini Pesan Kemerdekaan Syahrul Aidi Saat  Pimpin Upacara HUT RI di Hayfalah Boarding School

Iptek

Empat Titik Pasar Murah di Pekanbaru Pekan Ini, Satu di Kampar