kabarmelayu.com,PEKANBARU - Persoalan sosial dan tantangan keluarga menjadi perhatian dalam silaturahmi Ketua Presidium Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) Pusat, Hj. Nurul Hidayati Kusuma Hastuti, SS, MBA, bersama 17 organisasi masyarakat (ormas) perempuan Islam di bawah BMIWI Riau.
Pertemuan yang berlangsung di aula Teras Oren Pekanbaru, Senin (24/8/2026), itu membahas berbagai persoalan penyakit masyarakat, termasuk kekhawatiran terhadap perkembangan gerakan homoseksual atau LGBT dan pengaruhnya terhadap generasi muda.
Nurul Hidayati yang juga merupakan istri Presiden PKS, menyebut BMIWI memiliki posisi strategis sebagai wadah yang mempertemukan berbagai ormas perempuan Islam dalam membangun umat dan menjaga ketahanan keluarga.
"BMIWI jadi jembatan ormas wanita Islam membangun ummat dan menggapai Ridha Allah SWT," ujarnya.
Dalam dialog tersebut, Nurul menyoroti homoseksual sebagai salah satu persoalan sosial yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius dari keluarga dan masyarakat.
Ia menyebut gerakan yang berkaitan dengan homoseksualitas saat ini telah berkembang menjadi gerakan sosial global yang menurutnya berupaya mendorong penerimaan homoseksualitas di tengah masyarakat.
"Bahasa yang paling tepat adalah Homo Seksual bahwa ini yg paling pas bukan LGBT. Saat ini jadi gerakan sosial global besar. Bekerja menormalisasikan homoseksual. Sekarang bukan menjaga Indonesia. Tapi menjaga peradaban dunia," katanya.
Nurul juga menyinggung perkembangan penerimaan homoseksualitas di sejumlah negara. Ia menyebut gerakan tersebut telah berkembang di puluhan negara dan mulai mendapat ruang di kawasan Asia Tenggara.
Ia kemudian memaparkan sejumlah hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian, mulai dari narasi mengenai faktor genetik, perkembangan kampanye di media sosial, hingga munculnya berbagai bentuk perlindungan terhadap kelompok homoseksual.
Menurutnya, kelompok yang ingin mendorong penerimaan homoseksualitas juga dapat menyasar kalangan remaja yang berada dalam kondisi rentan, seperti minimnya pengasuhan keluarga, lemahnya pembinaan keagamaan maupun persoalan ekonomi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan keluarga dan peran perempuan dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak dan remaja.
"Semua agama menolaknya. Tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Didukung oleh gay politics global," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Presidium BMIWI Riau, dr. Arnita Sari, mengapresiasi ruang dialog yang membahas persoalan tersebut. Menurutnya, isu yang berkaitan dengan perkembangan perilaku seksual dan ketahanan keluarga penting diketahui oleh perempuan, terutama mereka yang berperan sebagai ibu rumah tangga.
Ia menilai perempuan memiliki posisi penting dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus memberikan edukasi dan pendampingan kepada anak-anak.
"Isu ini penting diketahui oleh para perempuan sebagai ibu rumah tangga. Dan peran BMIWI sangat urgen atas hal ini," ujarnya.
Menurut Arnita, keberadaan BMIWI diharapkan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi antarorganisasi perempuan Islam, tetapi juga menjadi wadah untuk membahas berbagai persoalan sosial yang bersentuhan langsung dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Dialog tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi 17 ormas perempuan Islam di bawah BMIWI Riau dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, khususnya yang dinilai berpotensi memengaruhi ketahanan keluarga dan generasi muda.