kabarmelayu.comINHIL - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (
PHK) massal di PT. Pulau
Sambu, Guntung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, semakin menguatkan dugaan adanya permainan pasar dan strategi efisiensi tersembunyi di balik krisis bahan baku yang dialami perusahaan.
Tak tanggung-tanggung, lebih dari 3.000 buruh dilaporkan menjadi korban pemecatan. Ironisnya, di tengah dalih krisis bahan baku, perusahaan justru terpantau membuka lowongan kerja untuk merekrut karyawan baru.
Sumber internal perusahaan menyebutkan, krisis bahan baku ini tak lepas dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Inhil yang membuka keran ekspor kelapa secara luas. Akibatnya, hasil panen petani kelapa di daerah ini lebih banyak diserap eksportir untuk dijual ke luar negeri, bukan lagi ke pabrik lokal.
"Kami menduga ini bukan sekadar soal alam atau pohon tua. Ada faktor ekonomi dan kebijakan ekspor yang membuat perusahaan kehilangan dominasinya terhadap harga kelapa di daerah ini," ujar sumber ini kepada media.
Yang menjadi sorotan publik, pascaPHK besar-besaran, PT Sambu justru membuka lowongan pekerjaan untuk posisi Meet Preparation Produksi (MP Produksi). Kondisi ini memunculkan kecurigaan, benarkah PHK ini murni krisis bahan baku, atau justru akal-akalan efisiensi biaya tenaga kerja.
"Setelah kami dipecat, sekarang malah ada penerimaan karyawan baru. Padahal katanya bahan baku kurang. Ini kan mencurigakan," ungkap salah seorang mantan karyawan PT Sambu.
Sejumlah warganet juga ramai mengkritik langkah perusahaan tersebut di media sosial.
"Modusnya sering begitu. PHK karyawan lama yang gajinya sudah tinggi, lalu rekrut yang baru-baru dengan status kontrak atau harian. Lebih murah, hak-haknya sedikit, dan nggak perlu bayar pesangon besar," tulis seorang netizen.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT Sambu belum memberikan keterangan resmi terkait kebijakan perekrutan tenaga kerja baru tersebut. (Tim)