Mengenang Petuah Mamiek, Sang Kakak untuk Didi Kempot

Harijal - Selasa, 05 Mei 2020 19:08 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/05/4ac6bf052020_untitled18.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Detikcom/Grandyos Zafna)
Dalam wawancara khusus dengan CNNIndonesia.com tahun lalu, Didi Kempot menceritakan kembali kakaknya, Mamiek Prakoso, yang menganggapnya sebagai berlian.

JAKARTA - Legenda musik campur sari Didi Kempot telah meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5) pagi.

Kepergian sang maestro itu menyusul kakaknya yang juga seniman, Mamiek Prakoso. Mamiek wafat pada 3 Agustus 2014 silam. Pun, Mamiek menghembuskan nafas terakhirnya di Solo.

Mamiek adalah seniman yang cenderung melekat dikenal publik sebagai komedian bersama grup Srimulat.

Saat pertemuan dengan CNNIndonesia.com pada Juli tahun lalu di Solo, mendiang Didi bercerita mengenai sang kakak. Tempo bicara Didi yang semula cepat mendadak melambat ketika pertanyaan mengenai Mamiek terlontar pada dirinya.

"Saya dan mas Mamiek itu dikhitan bareng," jawab Didi mantap begitu pertanyaan usai terlontar. "Selalu [bersama]. Di rumah juga, ya bapak saya tidak kaya, tidur pun ya sama dia [Mamiek]. Berdua," lanjutnya dengan nada yang lebih berat."

Mamiek dan Didi adalah putra dari Ranto Edi Gudel atau Mbah Ranto yang berprofesi sebagai pemain ketoprak. Darah seni di dalam tubuh Mamiek dan Didi itu merupakan warisan dari ayahnya.

Mamiek merupakan kakak sekaligus teman Didi ketika keduanya dididik seni oleh ayah mereka, Ranto Edi Gudel.

Sejak kecil, Mamiek dan Didi yang berjarak usia lima tahun, selalu diajak Mbah Ranto ke lokasi bekerja. Keduanya duduk menyaksikan ayah mereka pentas, melawak, bermain musik, hingga membuat lagu.

Didi mengingat ia dan Mamiek biasa duduk di tempat alat musik gamelan. Sembari bermain dengan Mamiek, Didi memerhatikan ayahnya berlatih. Sesekali, Mbah Ranto memberikan nasihat kepada Didi dan Mamiek mengenai dunia seni.

"Ya entah ya, dari kecil itu...kenapa Tuhan kasih itu..ya istilahnya ya, kalau dikasih kebisaan, Mamiek jadi pelawak, saya jadi penyanyi. Apa karena saya sudah bareng-bareng tidur, disunatin, atau karena bapak, akhirnya dapat duit dari seni juga," kata Didi, mengenang kebersamaannya dengan Mamiek kepada CNNIndonesia.com kala itu.

Berbeda jalur, Mamiek di seni peran sementara Didi ke dunia musik, nyatanya kakak beradik itu saling mendukung. Bahkan, bisa dibilang Mamiek adalah pengkritik sekaligus penggemar berat Didi.

Salah satu dukungan Mamiek kepada Didi ketika musisi ini sudah dewasa adalah kala pemain Srimulat itu menemani adiknya bertemu dengan orang Suriname. Hasil dari pertemuan itu membuat Didi terbang ke luar negeri dan menggelar konser.

Mamiek juga sering menilai lagu Didi. Salah satunya ketika Didi memperdengarkan lagu `Pantai Klayar` kepada Mamiek. Respons Mamiek kala itu menganggap lagu itu bagus dan bisa sukses.

"Mamiek sering memuji saya, `wah lagumu bagus`. Kasih dukungan terus. Sampai saya tua pun masih terus memberikan dukungan. Jadi, ia ingin adiknya baik. Itu yang saya ingat," kata Didi.

Didi berada di dekat Mamiek ketika sang kakak menghembuskan nafas terakhirnya. Kepada CNNIndonesia.com, Didi menceritakan kenangan dirinya pada momen terakhir dengan Mamiek pada 3 Agustus 2014.

Kala itu, Pukul 8.00 WIB, sengaja Didi ingin menemani sang kakaknya yang masih terbaring di rumah sakit kala itu. Di tengah perbincangan, Mamiek mengatakan, "Di, ini kamu kalau saya ibaratkan berlian, baru separuh yang kamu dapatkan," kata Mamiek. "Jadi kamu itu masih punya [peluang], masih mesti berkarya."

Didi hanya mengiyakan perkataan kakaknya itu. Apalagi, sesekali Mamiek masih melempar guyon ke tengah-tengah perbincangan dirinya dengan keluarga dan sahabat yang menjenguk.

"Hei Di, nanti anakku diajak renang yo," kata Mamiek kepada Didi.

"Weh, kan nanti kamu sembuh juga bisa ajak anakmu renang?" balas Didi.

"Ya pokoknya nanti kamu ajak renang anakku," timpal Mamiek.

Ternyata, itu adalah perbincangan terakhir Mamiek dengan Didi di siang itu. Pada 3 Agustus 2014 pukul 14.00 WIB, Mamiek dinyatakan meninggal dunia.

"Bahasa yang saya tangkap, anak kecil itu kalau menghadapi air, ada yang bahaya. Ada yang tenang, ada yang laut [beriak]. Saya diminta untuk ikut mengawasi anak-anaknya," kata Didi mengenai pesan kakaknya kala itu kepada CNNIndonesia.com.

"Itu filosofi yang disampaikan oleh Mamiek yang saya ingat sampai sekarang.... Dia mau meninggal saja masih berpesan." ujar Didi yang kini menyusul kakaknya ke alam baka.

(CNNIndonesia.com)

Berita Terkait

Seni

Panglima TNI: Alumni Taruna Nusantara Harus Menjadi Generasi Adaptif, Berkarakter, dan Berintegritas

Seni

Polsek Kandis Kawal Pemakaman Jenazah Mr. X

Seni

Program Ketahanan Pangan, Polsek Kandis Lakukan Pengecekan Tanaman Jagung Tumpang Sari

Seni

H. Haris Bantah Tuduhan Penjarahan Sawit, Kuasa Hukum: Lahan 110B Sudah Diserahkan Satgas PKH ke PT ASI

Seni

Paguyuban UPT SDN 024 Tarai Bangun Gelar Pelepasan Siswa Kelas VI

Seni

Gagal Salip Truk Tangki, Pemotor di Soekarno Hatta Tewas Terlindas