Ketua PWI Riau Paparkan Tantangan Jurnalis di Tengah Digitalisasi

Redaksi - Senin, 08 September 2025 21:03 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2025/09/_1886_Ketua-PWI-Riau-Paparkan-Tantangan-Jurnalis-di-Tengah-Digitalisasi.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Raja Isyam Azwar tampil sebagai pemateri pada kuliah umum di Universitas Hang Tuah Pekanbaru.(Foto: Istimewa)
kabarmelayu.comPEKANBARU - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau Raja Isyam Azwar hadir sebagai pemateri pada Kuliah Umum Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Senin (8/9/2025).

Pada sesinya, Raja Isyam memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru terkait sistem kerja jurnalis di tengah digitalisasi.

"Jurnalistik itu adalah pekerjaan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan. Bukan hanya memberikan informasi, jurnalis harus mampu juga mendengarkan aspirasi masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah," kata Raja Isyam Azwar.

Di tengah digitalisasi yang berkembang pesat, Raja Isyam menyebutkan peran jurnalis menjadi sangat krusial. Bukan hanya penyampai informasi akirat, namun juga menjadi edukator masyarakat dan katalis perubahan sosial.

"Jurnalis harus adaptif terhadap perubahan, mampu memverifikasi fakta di tengah banjir hoaks, serta tetap memegang teguh kode etik jurnalistik untuk menjaga integritas dan kepercayaan publik," kata Raja Isyam.

Dikatakannya, jurnalis harus mempu menyajikan informasi yang telah diverifikasi kebenarannya agar tidak menjadi penyebar disinformasi. Kemudian jurnalis harus menjunjung tinggi kode etik untuk menjaga integritas, objektivitas, dan membangun kembali kepercayaan publik.

"Jurnalis juga harus mampu menjadi pilar demokrasi, harus mampu mengawasi jalannya pemerintahan dan kebijakan dengan menyuarakan aspirasi publik, sesuai dengan Undang-Undang Pers," katanya.

Meskipun begitu, Raja Isyam menyebutkan jurnalis juga memiliki berbagai tantangan di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi. Mulai dari maraknya hoaks, tekanan, dan perubahan konvergensi.

"Kementerian Kominfo mencatat 1.923 hoaks terdeteksi sepanjang 2024 dengan tema politik dan keamanan. Maka dari itu penyebaran informasi palsu harus bisa diatasi jurnalis, karena ini sangat menyangkut pada kepercayaan publik terhadap media," ungkapnya.

"Jurnalis tentu memiliki tekanan untuk mendapatkan klik dan iklan. Ini tentu saja berdampak pada turunnya kualitas dan kedalaman pemberitaan," pungkasnya.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Sastra

Jadi Narasumber Podcast PWI, Kepala Bakom RI Bahas Urgensi Perlindungan Media dan Regulasi Sosmed

Sastra

PWI Sumbar Juara National Open PWI Pekanbaru 2026

Sastra

Pengurus PWI Surakarta 2026–2031 Dilantik

Sastra

PPWI dan Kedubes Maroko Sepakati 9 Langkah Strategis Kemitraan Media dan Budaya

Sastra

32 Wartawan 6 Provinsi Ramaikan National Open Biliar PWI Pekanbaru

Sastra

Pelatihan Public Speaking IKWI Riau, Dorong Perempuan Berani Tampil