Laksamana, Dimana Negeri Kita
Di ujung selatan jazirah MelakaAngin laut berkabar, Melaka jatuh ke tangan peringgiPesara Laksamana renta dalam usia, termangu menjalani titimangsa
: Runtuh juga benteng Melayu yang aku tegakkan dengan darah dan air matTak tagak Hang Nadim sendiri mengangkat panjiSementara Mahmud sang pencintaMabuk asmara di istana Kayu AraMembiar para penghianat membuka pintu KotaMembiar Musuh berdiri di depan istana dengan moncong meriam membidik singgasana
Angin laut berkabar: Laksamana, peringgi ingin Tuanku kembali ke MelakaMereka hendak memberi kuasa dan harta benda
Dada Laksamana berdesirBayangan perangkap dan hianatMembayang bagai sihirAngin semenanjung bergolakBersisik ombak Laut Temasik Laksamana memandang arah bintang, mencium maung malam,dan aroma dendam
: Tidak, beta tak kan kembali ke MelakaGemuruh jantung memberi isyaratPetaka menunggu darah tua ku Bentangkan layar, angkat jangkarTurunkan dayung, kisarkan cikarKita berlayar !
: Laksamana, dimana negeri kita?Angin laut berdesir, musim menghembus bau anyir
: Ke Bintan lah kita, ke tanah tempatPertama Beta mengorak langkah,Menggengam keris, membuka silat.Tanah yang mengajar beta darah pendekar
Angin, ombak dan gemuruh rindu menyatuDalam desau musim dan rasa lelah pendekar tua
: Aku sudah memayar bakhtera SamarlukiAku sudah membelah bahtera laksamana HaruAku sudah menghirup setanggi IstambulAku sudah menyaksikan lenggok penari jepunKini biar aku rehat dan menyimpan kenangan kuDari Bentan, kelak biar aku melimau keris para pewarisDarah Laksamana tak boleh kikisTradisi kesatria Bentan tak boleh khalisMelaka, jangan menangisBiar yang lahir kemudian menghunus kerisTak ada kuasa asing yang takkan habisTuah negeri Melayu,Daulat Raja Iskandar ZulkarnainKuasa Bukit SiguntangTakkan Melayu hilang di dunia
Angin selatan berarakOmbak utara memutihGemuruh rindu mengetuk pintu
: Selamat datang LaksamanaKe Bentan, jantung negeri Melayu
2020