Ada Bandar Besar Singapura Penyelundup Lobster RI ke Vietnam

Harijal - Rabu, 18 Desember 2019 13:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/12/aa2dda122019_untitled18.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Foto: Lobster (Dok. BNI)

JAKARTA - Adanya dugaan bandar-bandar besar terkait penyelundupan bibit lobster ke Singapura hingga Vietnam bukan isapan jempol belaka. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) membongkar soal tindakan pencucian uang (TPPU) dari penyelundupan lobster yang diduga dari bandar-bandar.

Informasi ini juga ternyata didapat oleh Effendi Gazali, yang selama ini dikenal sebagai pakar komunikasi politik. Ia mengklaim atas inisiatif sendiri terbang ke Vietnam melakukan 'investigasi' pada 25 November 2019. Pria yang biasa disapa Bang Pendi ini, mengunjungi lokasi bernama 'Phan Rang', pusat budidaya lobster terbesar di Vietnam, lokasinya  Thap Cham City, di Provinsi Ninh Thuan.

Ia mengunggah video di media sosial saat berada di atas kapal, di kawasan Teluk Phan Rang. Informasi apa yang didapat Effendi?

Effendi mengaku sempat mewawancara satu dari empat pemain besar budidaya lobster di Phan Rang. Pemain itu menguasai pasar 35% lobster di sana yang per harinya bisa mencapai 500 ribu bibit lobster masuk Phan Rang. Dari situ, ia mengaku dapat informasi bahwa ada 10 pemain besar di Singapura yang menjual lobster ke Phan Rang Vietnam. Para bandar besar Singapura ini diduga yang membiayai penyelundupan lobster dari Indonesia. Setelah di Singapura, lobster-lobster itu dijual secara 'legal' ke Vietnam.

"Saya dapat informasi ada 10 agen penampung lobster di Singapura, dan ada 4 pemain besar di Vietnam," katanya kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/12).

Sebelumnya Menteri KKP Edhy Prabowo juga mengatakan stok benih lobster di Vietnam mayoritas berasal dari Indonesia.

"Kebutuhan baby lobster mereka 80% datang dari Indonesia. Celakanya 80% tidak langsung dari Indonesia, (namun) lewat Singapura," kata Edhy pekan lalu.

Sementara itu, Effendi mengatakan di Phan Rang, perputaran uang dari bisnis lobster mencapai Rp 15 miliar per hari dari transaksi bibit lobster dan lobster siap panen. Ini sejalan dengan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) saja, soal tindakan pencucian uang (TPPU) dalam penyelundupan bibit lobster nilainya mencapai Rp 900 miliar per tahun atau sekitar Rp 3 miliar per hari.

Sebelumnya PPATK mengungkapkan aliran dana penyelundupan benih lobster ke luar negeri mencapai Rp300 miliar-Rp900 miliar per tahun. Dana tersebut digunakan mendanai pengepul dalam negeri dan membeli benih tangkapan nelayan lokal.

Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin menyatakan dana tersebut berasal dari bandar yang ada di luar negeri lalu dialirkan ke berbagai pengepul di Indonesia. Selain penyelundupan benih lobster juga terindikasi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Jadi banyak pihak yang terlibat di sana termasuk pihak eksportir dan importir yang menggunakan penyamaran untuk menerima pembayaran itu," kata Kiagus, Jumat (13/12) seperti dikutip dari CNN Indonesia.(*)

Berita Terkait

Peristiwa

Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah

Peristiwa

Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Peristiwa

Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin

Peristiwa

Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar

Peristiwa

Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu

Peristiwa

Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025