Ini Riwayat Karier Mantan Wakapolda Sumut yang Ditemukan Tewas Mengenaskan

Harijal - Selasa, 27 Februari 2018 22:44 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2018/02/b55d12022018_0000aauntitled4.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Foto: Avirista Midaada/Okezone)
Olah TKP di kediaman mantan Wakapolda Sumut, di Malang, Jawa Timur.

MALANG - Kematian Kombes Pol (Purn) Agus Samad masih menyisakan duka mendalam bagi segenap keluarga korban. Terlebih kematiannya terkesan tak wajar mengingat ditemukan dengan kondisi luka sayatan bersimbah darah.

Agus Samad lahir di Bukit Tinggi, pada 7 Agustus 1946. Almarhum merupakan lulus Akademi Polisi (Akpol) angkatan 1970. Ia mengawali karier di kepolisian sebagai Kasi Intel Polres Aceh Timur, kemudian dilanjut sebagai Waka Polres Aceh Barat, Wakapolres Sabang, Wakapolres Lhokseumawe, Kasat Intel Polres Banda Aceh.

Ia kemudian menjabat Sesdit Intel Polda Jawa Timur, Kapolres Blitar, Waka Polwil Besuki, Kadit Intel Polda Riau, Kadit Intel Polda Makasar, Kadit Intel Polda Metro, Irpolda Jawa Timur. Jabatan terakhir sebelum pensiun adalah Wakapolda Sumatera Utara pada tahun 2000.

Menurut salah seorang adik korban, Sofyan sehari-harinya tinggal bersama istrinya. Namun saat kejadian, sang istri sudah 13 hari meninggalkan rumah guna mengurus bisnis rumah makan di Bali.

"Jadi almarhum (Kombes Pol Agus Samad-red) itu meninggal di hari ke-13 ditinggal istrinya ke Bali," ujar adik korban, saat ditemui Okezone, Selasa (27/2/2018).

Terkait adanya permasalahan dengan keluarga besar maupun orang lain, ia mengaku tak terlalu paham keluarga sang kakak.

"Kami keluarga yang laki-laki tidak tahu-menahu dan tidak pernah ikut campur kalau ada permasalahan. Kalaupun ada persoalan biasanya almarhum cerita," ungkapnya.

Menurutnya, selama korban tinggal di rumah sendiri, cucu korban yang terdekat yang memberikan makanan siap konsumsi. Sang cucu juga mengambil pakaian kotornya untuk dicuci ke laundry.

Ia menambahkan, korban memang memiliki riwayat penyakit asam urat, diabetes, dan jantung. Sehingga istri korban saat meninggalkan rumah selalu intens berkomunikasi melalui telepon untuk menanyakan kabar.

"Istri terakhir berkomunikasi Jumat malam. Namun, Sabtu pagi saat ditelepon, diangkat orang lain, tapi terputus. Saat ditelepon orang istrinya sudah tidak tersambung sehingga menimbulkan kecurigaan," tuturnya.

Dari kecurigaan itulah akhirnya istri korban meminta tolong ke petugas keamanan untuk mengecek kondisi suaminya hingga akhirnya petugas keamanan bersama warga setempat menemukan korban sudah tak bernyawa dengan kondisi bersimbah darah di taman belakang.

Sebelumnya, warga Perumahan Bukit Dieng Permai dikejutkan penemuan jasad purnawirawan mantan Wakapolda Sumatera Utara yang tewas bersimbah darah dengan kondisi kaki terikat tali rafia hitam dan banyak luka sayatan di taman belakang rumahnya pada Sabtu, 24 Februari 2018.

Diduga ia menjadi korban pembunuhan karena ditemukan sejumlah bercak darah di ruang makan yang berjarak 10 meter dari penemuan jasad korban.

(okezone.com)

Berita Terkait

Peristiwa

Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah

Peristiwa

Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Peristiwa

Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin

Peristiwa

Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar

Peristiwa

Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu

Peristiwa

Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025