Tersangkut di Pohon, Bayi Tiga Bulan Selamat Saat Banjir Bandang Sumbar

Redaksi - Rabu, 03 Desember 2025 20:08 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2025/12/_8877_Tersangkut-di-Pohon--Bayi-Tiga-Bulan-Selamat-Saat-Banjir-Bandang-Sumbar.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Fathan digendong salah seorang warga. Dia selamat dari bencana galodo yang menyebabkan seluruh keluarganya meninggal.(Foto: Instagram)
kabarmelayu.comSUMBAR - Seornag bayi berusia 3 bulan, Fathan, ditemukan selamat saat peristiwa banjir bandang yang melanda Desa Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, pada Kamis (27/11/2025) lalu. Fathan merupakan satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari amukan alam itu.

Keluarga Fathan tinggal di tepi Sungai Selaras, satu dari lima hingga enam rumah yang berjejer di pinggiran sungai, jembatan penghubung desa. Saat air bah datang, rumah mereka habis tersapu.

Bayi itu sebelumnya tinggal bersama ibu, ayah, nenek, om, tante, dan kakaknya, total tujuh orang. Kini ia tinggal sebatang kara setelah seluruh keluarganya meninggal disapu galodo (demikian warga setempat menyebut bencana banjir bandang dan longsor).

Wali Nagari (Kepala Desa) Salareh Aia Timur, Ahmad Fauzi menuturkan, Fathan ditemukan saat evakuasi, tepatnya malam setelah banjir bandang.

Fathan ditemukan ditengah kegelapan pencarian korban galodo, ia tersangkut di sebuah pohon. ,Bayi Titipan Tuhan', sebutan itu melekat kepada Fathan setelah keajaiban malam itu.

Diketahui, ayah Fathan sebelumnya sempat dilarikan ke RSUD Lubuk Basung, namun sehari setelah peristiwa itu nyawanya tak tertolong. Nasib serupa dialami paman Fathan yang juga sempat dibawa ke rumah sakit bersama Fathan. Namun, sang paman pun tak tertolong.

Wali Nagari Fauzi mengisahkan, kehidupan warga di tepi sungai Salareh ini telah berlangsung turun temurun sejak masa nenek moyang mereka. Kejadian galodo diakui Fauzi tak pernah sedahsyat ini.

Galodo kali ini harus dibayar mahal oleh warga yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Saat ini, Fathan berada dalam perawatan, dia menjadi tumpuan kasih sayang bagi warga yang selamat. Komunitas Desa Selaras Aia Timur kini mengemban tugas memastikan Fathan mendapatkan kehidupan yang layak, menggantikan keluarga yang telah direnggut oleh air bah.

Saat ini masih banyak warga yang belum ditemukan. Proses evakuasi terhambat karena keterbatasan. Alat berat yang ada saat ini belum cukup untuk melakukan pencarian dan penggalian maksimal di area bencana yang luas dan sulit dijangkau.

Bantuan untuk saat ini sangat krusial untuk menggerakkan kembali roda kehidupan pasca-bencana.

Peristiwa galodo di Selaras Aia Timur memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai pentingnya mitigasi bencana dan pemahaman risiko geografis. Kisah Fathan dan kehancuran desanya menjadi refleksi bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana alam.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Pekanbaru Masih Dibelit Persoalan Banjir, Ini Kata Wawako Markarius

Peristiwa

Sepanjang 900 Kilometer Drainase di Pekanbaru Dinormalisasi Tahun Ini

Peristiwa

Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang Naik Tipis Malam Ini, di Hilir Terjadi Kenaikan Permukaan Air Sungai Kampar

Peristiwa

Tembilahan Dilanda Banjir Rob

Peristiwa

Hujan Seharian, Wako Agung Nugroho Tinjau Lokasi Rawan Banjir di Pekanbaru

Peristiwa

Atasi Banjir, 10 Danau Unri di Binawidya Dijadikan Embung