PEKANBARU - Setelah beberapa hari memasang boxtrap (perangkap) untuk menangkap harimau sumatera (
HS) yang telah menyerang pekerja di Pelalawan hingga tewas, akhirnya si raja hutan tersebut berhasil ditangkap, Ahad (16/3/2025).
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Genman Suhefti Hasibuan mejelaskan, usai mendapatkan laporan tersebut, Kamis (13/3/2025), keesokan harinya BBKSDA Riau menurunkan Unit Penyelamatan Satwa (UPS) untuk melakukan kajian dan upaya penanggulangan dan memasang boxtrap dan camera trap.
"Dua boxtrap dipasang di TKP dan lokasi dekat camp pekerja yang merupakan jalur lintasan Harimau berdasarkan jejak yang ditemukan. Juga dilakukan sosialisasi kepada para pekerja dan melakukan patroli bersama sebagai upaya penanggulangan," ujarnya.
Diketahui, pada 16 Maret 2024 atau dua hari setelah pemasangan boxtrap, HS ditemukan masuk dalam boxtrap yang dipasang
"Sebagai tindakan pencegahan, untuk beberapa waktu ke depan kita meningkatkan patroli di area rawan konflik, melakukan edukasi kepada masyarakat tentang cara bertindak bila bertemu satwa Harimau Sumatera, serta mendorong penerapan sistem peringatan dini di sekitar wilayah yang berbatasan dengan habitat satwa liar," ujarnya.
Diharapkan upaya konservasi harimau Sumatera dapat terus berjalan tanpa mengancam keselamatan manusia maupun kelestarian satwa liar.
"BBKSDA Riau bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, swasta, akademisi, serta organisasi konservasi, terus menerus meningkatkan upaya mitigasi konflik satwa liar di Provinsi Riau," ujarnya.
Jika menemukan jejak atau melihat keberadaan satwa Harimau Sumatera di sekitar pemukiman, masyarakat dapat melaporkan ke call center BBKSDA Riau atau aparat desa setempat.
Menjaga rantai makanan satwa di alam liar, menjadi salah satu cara menghindari konflik antara HS dengan manusia. BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat tidak melakukan perburuan satwa yang biasa menjadi mangsa, seperti rusa dan babi hutan.
Seperti diberitakan, Yafao Zebua, pekerja konsesi berusia 50 tahun tewas dengan mengalami luka berupa cakaran di kepala bagian belakang dan leher serta pada bagian daging paha atas kanan di areal perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), Kamis (13/3/25) lalu.
Korban diketahui terlibat konflik dengan satwa HS.