IDI Aceh Catat 60 Tenaga Medis Terinfeksi Covid-19

Harijal - Selasa, 04 Agustus 2020 16:09 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/08/6ec976082020_untitled9.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Tenaga kesehatan menggunakan APD sebagai langkah pencegahan tertular virus corona.

JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh mencatat puluhan tenaga kesehatan di wilayah provinsi itu telah terkonfirmasi terinfeksi virus corona (Covid-19).

"Sampai saat ini yang sudah saya catat, hampir 60 orang yang positif tenaga medis, perawat maupun dokter. Jumlah itu akan terus bertambah jika pemerintah tidak memperketat sistem penapisan di setiap fasilitas kesehatan," kata Ketua IDI Aceh, Safrizal Rahman di Banda Aceh, Selasa (4/8) seperti dilansir Antara.

Safrizal mengatakan dari 60 tenaga medis tersebut, sekitar 25 orang merupakan dokter, termasuk di dalamnya peserta program dokter spesialis (PPDS), dan selebihnya perawat.

Umumnya mereka yang terinfeksi itu tanpa bergejala, cuma membutuhkan isolasi mandiri yang diawasi ketat agar tidak menularkan ke orang lain.

Dia menerangkan ada beberapa orang (bergejala) dan satu orang dokter sekarang di respiratory intensive care unit (RICU) harus diberikan alat bantu nafas, sangat memprihatinkan, tapi sebagian besar tanpa gejala.

"Angka ini fluktuatif ya, akan terus meningkat, karena memang pemeriksaan kita kadang-kadang butuh waktu sedikit lama, mereka diperiksa dan mereka harus diisolasi sementara menunggu hasil swab. Karena kalau mereka bekerja takutnya hasil positif, maka sudah banyak lagi yang harus di-tracing," katanya.

Menurut Safrizal, selama ini layanan di fasilitas kesehatan terkait Covid-19 dan perlindungan terhadap tenaga medis masih terkesan lemah. Alhasil, para tenaga medis yang terpapar dan konfirmasi positif sejauh ini terus bertambah.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong upaya penapisan atau skrining awal di setiap fasilitas kesehatan harus diperketat.

Ketika ada pasien masuk, maka terdapat prosedur yang jelas dan sejumlah pertanyaan yang disodorkan guna melihat potensi risiko Covid-19.

"Kalau memang pasien ini mengarah ke Covid-19, maka langsung dipindahkan ke tempat perawatan Covid-19. Kalau yang tidak, baru boleh masuk ke fasilitas biasa," ujarnya.

Apabila penapisan tidak ketat, kata Safrizal, pasien yang ternyata terpapar Covid-19 itu bisa saja diarahkan ke ruang biasa. Padahal fasilitas dan metode perawatan di sana tak dipersiapkan khusus untuk pasien Covid-19.

Alhasil, bisa memicu risiko tinggi tenaga medis di sana tertular Covid-19 juga.

"Dan itu terjadi beberapa sekali dan sering sekali bahkan, lolos pasien masuk ke ruang biasa, ternyata belakangan diketahui Covid-19, sehingga siapa saja berkontak dekat dengan pasien ini harus diperiksa semuanya," katanya.

(Antara/CNNIndonesia)

Berita Terkait

Peristiwa

Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah

Peristiwa

Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Peristiwa

Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin

Peristiwa

Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar

Peristiwa

Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu

Peristiwa

Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025