Sekolah Pengungsian di Gaza Ditembaki Israel, Lima Warga Tewas

Redaksi - Sabtu, 20 Desember 2025 13:41 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2025/12/_3318_Sekolah-Pengungsian-di-Gaza-Ditembaki-Israel--Lima-Warga-Tewas.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Ilustrasi.(Foto: AFP)
kabarmelayu.comJAKARTA - Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan lima warga Palestina tewas akibat penembakan Israel terhadap sebuah sekolah yang difungsikan sebagai tempat perlindungan pengungsi di Jalur Gaza, Jumat (19/12/2025) waktu setempat. Insiden ini kembali menguji rapuhnya gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berlaku sejak Oktober lalu.

Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan korban tewas ditemukan di Sekolah Martir Gaza yang terletak di kawasan Tuffah, sebelah timur Kota Gaza. Sekolah tersebut selama ini digunakan sebagai tempat berlindung warga sipil.

"Lima martir telah ditemukan sebagai akibat dari penembakan Israel terhadap tempat perlindungan di Sekolah Martir Gaza," ujar Bassal dikutip dari Arab News, Sabtu (20/12/2025).

Menanggapi laporan tersebut, militer Israel menyatakan penembakan dilakukan terhadap sejumlah individu yang mencurigakan selama aktivitas operasional di wilayah utara Jalur Gaza, dekat area yang disebut Garis Kuning. Wilayah ini berada di zona tempat pasukan Israel mundur sesuai ketentuan gencatan senjata.

"Tak lama setelah identifikasi, pasukan menembak individu yang mencurigakan untuk menghilangkan ancaman," ujar pernyataan militer Israel.

Mereka juga mengklaim tengah meninjau laporan terkait jatuhnya korban jiwa di lokasi tersebut. Militer Israel menyatakan penyesalan atas setiap korban dari kalangan warga sipil yang tidak terlibat.

"Militer Israel menyesali setiap kerugian yang dialami oleh individu yang tidak terlibat dan berupaya meminimalkan kerugian sebisa mungkin," demikian pernyataan resmi mereka.

Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat itu dinilai masih sangat rapuh. Israel dan Hamas saling menuduh telah melakukan pelanggaran sejak kesepakatan mulai berlaku pada 10 Oktober. Para mediator internasional pun khawatir kedua pihak sengaja mengulur waktu untuk kepentingan masing-masing.

Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff dijadwalkan bertemu dengan pejabat Qatar, Mesir, dan Turki di Florida pada Jumat. Pertemuan ini diharapkan dapat menyelamatkan pembicaraan menuju tahap kedua kesepakatan gencatan senjata.

Anggota biro politik Hamas, Bassem Naim, menyatakan rakyat Palestina berharap upaya diplomatik tersebut dapat menghentikan kekerasan. "Rakyat kami berharap pembicaraan ini akan menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri pelanggaran hukum Israel yang sedang berlangsung dan memaksa pendudukan mematuhi perjanjian Sharm El-Sheikh," kata Naim.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas mencatat sedikitnya 395 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Di sisi lain, Israel juga berulang kali menuduh Hamas melanggar gencatan senjata, dengan melaporkan tiga tentaranya tewas di wilayah tersebut sejak gencatan senjata diberlakukan.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

BKSAP DPR RI Dukung MUI dan Forkomnas, Minta Pemerintah Konsisten Bela Palestina

Pendidikan

3 Tahun Tragedi Gaza, Ribuan Masaa Hadiri Aksi Solidaritas Palestina di Pekanbaru

Pendidikan

Pemerintah RI Resmi Larang Konser Artis Pro-Zionis

Pendidikan

BKSAP DPR RI Siap Berkolaborasi dengan Menlu Baru

Pendidikan

Indonesia Walk Out saat Netanyahu Pidato di PBB

Pendidikan

BKSAP DPR RI Kecam Penangkapan WNI oleh Militer Israel dalam Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla