Kalau Nilai Matematika Saya Merah, Apakah Saya Bodoh?

Redaksi - Kamis, 10 April 2025 13:47 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2025/04/_3318_Kalau-Nilai-Matematika-Saya-Merah--Apakah-Saya-Bodoh-.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Nadirsyah Hosen
DULU, kecerdasan hanya dipersempit jadi satu jalur: jago matematika, sains, dan hafalan. Di sekolah kita, anak yang tak bisa berhitung tapi piawai menulis cerita atau bergaul hangat seringkali hanya dipandang "biasa". Seolah kecemerlangan hanya boleh bernama angka.

Saya termasuk yang tumbuh dalam asumsi itu. Nilai matematika saya di ijazah SD merah, 5. Di Tsanawiyah, saya sering bolos pelajaran itu dan enggan menyentuh PR-nya. Tapi guru saya sangat baik, tak pernah memberi nilai merah di rapor. Sampai sekarang, beliau masih hadir dalam mimpi saya. Dalam mimpi itu, saya masih gemetar menghadapi ujian matematika. Sedalam itu trauma yang ditinggalkan.

Namun hidup mengajarkan hal lain. Hari ini saya boleh berdiri di depan kelas mengajar hukum, bukan menghitung integral. Bukan karena matematika tak penting, tapi karena itu tenyata bukan satu-satunya bentuk kecerdasan.

Howard Gardner memperkenalkan Teori Multiple Intelligences yang menolak gagasan bahwa IQ adalah tolok ukur tunggal. Menurutnya, manusia memiliki setidaknya 8 bentuk kecerdasan.

1. Logika-Matematika, seperti dimiliki ilmuwan dan insinyur.

2. Linguistik-Verbal, yang kuat pada pengacara, jurnalis, dan dosen.

3. Visual-Spasial, seperti arsitek dan desainer.

4. Musikal, pada musisi dan penyanyi.

5. Kinestetik-Jasmani, yang dimiliki atlet dan ahli bedah.

6. Interpersonal, kecerdasan memahami orang lain seperti guru dan konselor.

7. Intrapersonal, kecerdasan memahami diri sendiri, khas filsuf dan pemimpin bijak.

8. Naturalis, yang peka akan dunia alam, petani, aktivis lingkungan.

Jadi, tak ada definisi tunggal untuk "cerdas". Anak yang tak pandai berhitung tapi bisa menulis cerpen, memainkan musik, berolahraga, atau memahami teman yang sedih tetap cerdas, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Teori ini menantang sistem pendidikan kita agar lebih adil dan manusiawi. Agar anak-anak tak lagi dipaksa "memanjat pohon", padahal mereka adalah "ikan" yang bisa berenang dengan gemilang.

"Jadi kalau gak bisa matematika, gak bisa gambar, gak bisa nyanyi, Abang bisanya apa dong?"

"Bisanya cuma bikin puisi dan kalimat cinta buat dirimu, Hon…"

Tabik

Nadirsyah Hosen

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Peredaran 30 Kilogram Sabu dan Ribuan Liquid Psikotropika dari Malaysia Digagalkan

Pendidikan

MKKS Mawar Serantau Kampar Kiri Rancang Aplikasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Pendidikan

Pj Bupati Launching Buku Kurikulum Muatan Lokal Kampar

Pendidikan

UPT SDN 028 Kubang Jaya Gelar Karya P5 Tema Berkebhinekaan Global

Pendidikan

Mendikdasmen Perkenalkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Pendidikan

UPT SDN 035 Tarai Bangun Gelar Gebyar P5 Gaya Hidup Berkelanjutan