KAMPAR - UPT Sekolah Menengah Pertama Negeri (
SMPN) 4 Siak Hulu Kabupaten Kampar melaksanakan kegiatan pesantren kilat selama 2 hari, Jumat dan Sabtu (14-15/3/2025) lalu.
Kepala UPT SMPN 4 Siak Hulu, Mohamad Hujani menjelaskan, pesantren kilat yang berlangsung dua hari ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang sama pada Jumat sebelumnya. Kegiatan dimulai pagi hingga selesai menjelang waktu zuhur.
"Tujuannya meningkatkan iman dan taqwa dan membentuk katakter positif pada siswa," ujar Hujani.
Ada dua fokus materi dalam pesantren kilat ini, yakni fikih dan ibadah serta tentang akhlak.
Terkait fikih, pertama sekali yakni tentang tata cara sholat, sehingga siswa faham dengan gerakan sholat yang benar, bahkan sampai tata cara berwudhu yang benar.
Sedangkan tentang akhlak juga sangat penting di saat anak-anak telah terpapar gadget dan smartphone, khususnya media sosial yang telah mempengaruhi karakter anak.
Hujani melihat fenomena saat ini terjadi pergeseran akhlak, sopan santun dan etika anak-anak dan remaja. "Penting untuk meluruskan dan mengembalikan tata krama serta menanamkam nilai-nilai akhlak dan sopan santun tadi," ujar Hujani.
Jika generasi saat ini dibiarkan tumbuh dan berkembang apa adanya seperti saat ini, di masa mendatang mereka akan menjadi orang yang berkarakter kurang baik dan tak bertanggung jawab.
Kepala sekolah menyadari, pesantren kilat yang dilaksanakan di sekolahnya pada Ramadhan 1446 H ini ini masih belum cukup. Namun setidaknya telah memberi harapan bagi sekolah dan orang tua bahwa para siswa telah mendapat pencerahan.
Di pesantren kilat ini para siswa juga ditekankan untuk berinteraksi langsung dengan teman sebaya, teman yang lebih tua maupun dengan orang tua. Dari interaksi ini akan tertanamkan nilai-nilai tata krama, sopan santun dan etika.
Pada waktu dan jam yang sama dengan pesantren kilat siswa muslim, para siswa nonmuslim juga melaksanakan kegiatan rohani. Kegiatan tersebut dilaksanakan di gereja doli bawah bimbingan guru agama masing-masing.
"Jadi pihak sekolah tidak membedakan agama dan kepercayaan para siswa. Pembentukan karakter ini kita lakukan dengan sentuhan agama dan kepercayaan masing-masing," tutup Hujani Mengakhiri.