KAMPAR -
Budidaya jamur tiram UPT Sekolah Dasar Negeri (
SDN) 024 Tanah Merah Kecamatan Siak Hulu, Kampar, sukses dilaksanakan. Saat ini budidaya jamur tiram yang disebut dengan Simpang Jati (Sekolah Inovasi Penghasil
JamurTiram) tersebut telah mendulang rupiah yang cukup lumayan.
Kepala UPT SDN 024 Tanah Merah, Erianti, S. Pd, Jumat (25/10/2024) menyampaikan, saat ini sedikitnya 1000 baglog telah menghasilkan antara 4-6 kilo jamur tiram setiap hari, dengan harga jual dari Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilonya.
"Alhamdulillah, Simpang Jati kita sukses. Sudah kita panen dan telah menghasilkan. Ini tentu kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami," tutur Eriyanti didampingi guru pembimbing Afni dan Andi.
Panen pertama kali dilakukan pada 22 September 2024 lalu, persisnya setelah 40 hari masa penyemaian bibit dan pembuatan baglog. Artinya, panen sudah dilakukan selama satu bulan lebih.
Untuk warga sekolah seperti orang tua, jamur tiram ini dijual seharga Rp20.000 perkilo. Untuk pedagang Rp25.000 dan untuk konsumen langsung dijual Rp30ribu perkilonya.
Diakui, pihak sekolah kewalahan memenuhi permintaan pasar jamur tiram dari para pedagang. Namun pihak sekolah mengambil kebijakan untuk mengutamakan permintaan warga sekolah, seperti guru dan walimurid.
"Panen bisa dilakukan hingga baglog benih tadi berumur 4-5 bulan. Artinya, ada sekitar 3-4 bulan masa panen yang akan berlangsung," tutur Eriyanti.
Setelah berusia 4-5 bulan, baglog jamur tiram sudah tidak produktif, sehingga akan dibuat baglog baru.
Adapun panen ini dilakukan oleh para murid dibantu guru pembimbing. Di mana mereka sebelumnya juga turut melakukan pembuatan baglog bibit.
Adapun hasil dari penjualan jamur tiram ini digunakan untuk perawatan, pembelian plastik bungkus dan kebutuhanlainnya. Sedangkan sisanya disimpan untuk pembuatan baglog dan pembelian bibit jamur tiram untuk daur berikutnya.
"Hasil penjualan tersebut nantinya juga akan kita gunakan untuk penambahan baglog yang berisi bibit jamur tiram," tambah Eriyanti.
Untuk satu baglog, diperkirakan menbutuhkan biaya sekitar Rp5.000 sampai Rp6.000. Sedangkan hasilnya diperkirakan hingga Rp100.000 lebih dengan lama masa panen selama 150 hari.
Jumlah hasil panen jamur tiram ini ternyata juga tergantung cuaca. Jika hujan terus menerus dan udara ruangan semakin lembab, dalam sehari bahkan bisa panen hingga belasan kilo.
Namun jika cuaca panas, maka hasil panen akan berkurang. Sehingga itu intensitas penyiraman ruangan perlu lebih sering dilakukan agar kelembaban ruangan tetap terjaga.
Lagi Eriyanti menambahkan, inovasi ini dinilai sebagai terobosan cerdas dalam situasi seperti saat ini. Inovasi yang dilakukan mendapat dukungan penuh dari orang tua dan wali murid.
"Harapan kita, dengan adanya inovasi Simpang Jati ini dapat menjadi modal bagi siswa di kemudian hari, membantu perekonomian keluarga. Karena nilai ekonomis dan prospek bisnis ini cukup bagus. Hal itu bisa dilihat dari permintaan pasar yang cukup tinggi," tutur Eriyanti mengakhiri.(Andi)