SELATPANJANG, kabarmelayu.com - Dikunjungi rombongan Polres Kepulauan Meranti dan jajaran, Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekar Meranti di Desa Anak Setatah, Riau, seperti kejatuhan durian runtuh. Bagaimana tidak, saat itu Kapolres AKBP Barliansyah SIk menyatakan kesiapan untuk membantu menyiapkan bangunan sekolah tersebut.
Kepala SLB Sekar Meranti Syafrizal mengatakan, saat mengunjungi sekolah, AKBP Barliansyah SIk prihatin dengan kondisi ruang yang digunakan anak-anak dengan keterbatasan untuk menuntut ilmu. Dimana, waktu itu ruang belajar ini belum semuanya ditutupi dinding, belum ada bangku dan dinding.
Saat itu juga Kapolres Barliansyah memerintahkan Kasat Reskrim Andi Siregar untuk membantu menyiapkan bangunan yang masih terdapat kekurangan tersebut.
Di sekolah ini, Kapolres Barliansyah yang didampingi istri, Kapolsek Rangsangbarat Ipda Roemin Putra serta beberapa bhayangkari sempat bercengkerama mesra dengan siswa SLB. Kapolres juga menyempatkan diri bermain bola bocce, melawan Siti, atlet SLB yang beberapa waktu lalu merain medali di tingkat provinsi.
Barliansyah juga menyerahkan sejumlah uang untuk dipergunakan pihak SLB. Selain itu, istrinya juga membawakan paket makanan ringan untuk siswa dan orang tua yang hadir.
Menanggapi bantuan ini, Syafrizal mengucapkan terima kasih. Katanya, uang yang diberikan Kapolres Barliansyah dibelikan papan, papan lapis (triplek) untuk membuat bangku sekolah. "Orang tua siswa yang jauh-jauh ke sekolah saat polisi datang juga minta dibantu uang bensin. Saya gunakan juga uang dari Pak Kapolres," cerita Syafrizal, Sabtu (24/12/2016).
"Pak Kapolres suruh Kasat Reskrim selesaikan bangunan sekolah kita. Kita sangat senang," tambah Syafrizal.
Saat itu bangunan ini masih kekurangan 4 keping papan agar semuanya tertutup dinding (ke atas). Bagian atas bangunan yang berbentuk segitiga (disebut ambang-ambang, red) juga masih kosong. Selain itu, bangunan tersebut juga belum ada plafonnya. "Kalau atap dan lantai sudah full. Hanya saja, tongkatnya masih menggunakan batang kelapa," cerita Syafrizal.
Bangunan ini dibangun dengan ukuran 16 x 32 kaki atau 5 x 10 meter itu dibagi menjadi dua ruang. Dua ruang ini digunakan untuk empat kelas. Dibangun di atas tanah berukuran 50 x 25 meter, hibah dari keluarganya untuk pihak yayasan.
Jaraknya 1,5 km dari bangunan MDTA, dan dipenuhi siswa penyandang tunagrahita, tunarungu, autis, daksa, dan tunanetra.
(goriau.com)