Tanamkan Sikap Mandiri, Siswa SMPN 16 Pekanbaru Harus Optimis

Harijal - Rabu, 04 November 2020 16:42 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/11/c9de33112020_untitled6.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Kepala SMPN 16 Pekanbaru, Arbaiyah SPd

PEKANBARU, kabarmelayu.com - Selain prestasi lulusan SMPN 16, diharapkan mampu hidup mandiri, jujur, bertanggungjawab, dan cerdas dalam menghadapi segala kondisi.

Hal ini disampaikan Kepala SMPN 16 Pekanbaru, Arbaiyah SPd, saat dikonfirmasi seputar obsesi yang ingin ia capai dalam mendidik siswa, Rabu (4/11/20).

"Pinginnya saya itu maunya lulusan SMPN 16 itu mandiri, jujur dan bertanggungjawab. Karena di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, itu sangat penting. Cerdas menghadapi keadaan dalam menghadapi kondisi apapun" ujarnya.

Ia mengatakan meski nantinya dirinya tak lagi di SMPN 16, ia berpesan agar siswanya jangan merasa rendah diri, melainkan punya rasa optimis.

"Pada umumnya orangtua siswa sini banyak tak mampu. Meski begitu jangan merasa rendah diri, rendah hati boleh. Kalau rendah diri nggak ada kepercayaan diri, nggak ada kemandirian dalam hidup. Harus selalu berpikiran positif. Walaupun orang tua tidak mampu, kita harus optimis dalam hidup," tuturnya.

Sementara itu terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama covid-19 kata Arbaiyah, SMPN 16 tetap memberlakukan sistim piket terjadwal.

"Untuk piket sekarang misalnya, datang ke sekolah itu bergiliran,  satu hari 7 orang. Namun kalau kepala sekolah, staf TU, bidang kurikulum tetap datang," ucapnya.

Arbaiyah mengatakan, mengingat mayoritas guru SMPN 16 Pekanbaru berusia 50 tahun keatas, tentunya harus dilakukan secara bergiliran plus TU 3 orang. TU ini untuk melayaji surat-surat masuk, ucapnya.

Ia mengatakan, meski tanpa siswa namun sebelum melakukan aktivitas pihaknya mewajibkan semja guru dan staf mengaji selama 1 jam.

"Sebelum pekerjaan dimulai kami mengaji dulu, kita berdoa kepada Allah, kita lakukan dulu untuk akhirat baru dunia. Jadi dengan begitu ada ketenangan jiwa masing-masing dalam bekerja. Dengan jiwa yang tenang dan pikiran sehat, pikiran positif. Sedangkan bagi non muslim membaca Alkitab," ucapnya.

Arbaiyah menceritakan, sistim PJJ awalnya guru sedikit kewalahan. Namun seiring dengan perjalanan waktu akhirnya guru bisa melakukan aktifitas PJJ seperti biasa.

Sementara siswa yang tidak aktif dalam PJJ, pihaknya meminta guru bidang study memanggil orang tua. Hingga akhirnya diketahui bahwa orangtua siswa SMPN 16 mayoritas ekonomi menengah ke bawah. Hal ini terbukti dari sejumlah orangtua siswa yang hanya memiliki 1 android dalam 1 keluarga.

Alhasil, meski PR yang diberikan kepada peserta didik terlambat diserahkan ke sekolah, Arbaiyah meminta guru agar tetap menerima, ujarnya. (fin)

Berita Terkait

Pendidikan

Ajang Kebersamaan, PWI Riau Peringati HPN 2026 dengan Lomba dan Potong Tumpeng

Pendidikan

Bupati dan Wabup Terima Silaturahmi Pengurus PKS Kampar, Bangun Komunikasi Konstruktif

Pendidikan

Ada Anak Putus Sekolah? Laporkan

Pendidikan

Suparman Tantang Iwan Pansa Duel di Hadapan Lembaga Adat

Pendidikan

Agung Nugroho Lantik 7 Pejabat Pemko Pekanbaru

Pendidikan

Dua Siswi UPT SMP Negeri 4 Siak Hulu Sabet Medali pada Olimpiade Pelajar Berprestasi Indonesia