Peristiwa Banjir Darah Di Mampusun Pelalawan

Oleh: Tengku Nurfauzan, Mahasiswa Pedidikan Sejarah - Universitas Riau
Harijal - Selasa, 03 November 2020 19:11 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/11/c02007112020_untitled2.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
istimewa

KABUPATEN Pelalawan memiliki banyak sekali ragam peristiwa sejarah, salah satunya yang tak kalah penting seperti pertempuran besar antara kerajaan Pelalawan dengan pewaris tahta kerajaan Pekantua yang memimpin kerajaan Siak Sri Indrapura.

Peristiwa banjir darah di Mampusun ini bermula dari keinginan Raja Sayed Osman untuk mengambil wilayah kekuasaan Pelalawan yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Pekantua yang dihancurkan oleh portugis.

Sebenarnya Pelalawan memang berada di bawah kekuasaan kerajaan Pekantua, namun setelah kerajaan Pekantua diluluh lantakkan oleh portugis maka seluruh keturunan pewaris tahta dihabisi oleh penjajah. 

Sebelum menghabisi semua pewaris tahta ada salah seorang dari putra mahkota berhasil diselamatkan oleh Raja Pagaruyung dan dirawat oleh beliau hingga dewasa dan dinikahkan dengan putrinya.

Setelah menikahi putri Pagaruyung Tengku Sayed Osman diberi tanah untuk membangun kerajaan Siak Sri Indrapura dan memperluas kekuasaannya hingga akhirnya ingin mengambil kembali kekuasaan yang dulunya tunduk di bawah kerajaan Pekantua yang mana kerajaan ayahandanya dahulu.

Tengku Sayed Osman memberikan surat kepada maharaja Sinda Raja Pelalawan pada saat itu untuk segera tunduk di bawah kerajaan Siak. Namun para petinggi kerajaan Pelalawan bermusyawarah dan memutuskan untuk tidak takluk kepada kerajaan Siak dikarenakan kerajaan Pelalawan sudah mandiri. 

Meski demikian kerajaan Pelalawan tetap mengakui bahwa Tengku Sayed Osman adalah pewaris tahta kejaraan Pekantua, namun mereka tidak akan tahluk terhadap kerajaan Siak.

Akhirnya setelah mendengar jawaban dari kerajaan Pelalawan, Maharaja kerajaan Siak memutuskan untuk melakukan penyerangan ke Pelalawan. Dalam pertempuran ini salah seorang panglima besar Siak yang bernama Panglima Baheram gugur di medan perang tepatnya di daerah Petatalan. Kerajaan Siak memutuskan untuk mundur dan menerima kekalahan.

Setelah putra dari Tengku Sayed Osman yang bernama Tengku Sayed Abdurrahman dan Tengku Sayed Muhammad tumbuh dewasa, Siak kembali melakukan penyerangan ke Pelalawan. 

Dalam pertempuran kali ini Pelalawan berhasil ditaklukan setelah gugurnya dua panglima besar kerajaan Pelalawan yakni Panglima Katan dan Panglima Kudin. 

Setelah ditaklukkan pembesar-pembesar Pelalawan tetap difungsikan di bawah kepemimpinan Tengku Sayed Abdurrahman dan dinobatkan sebagai Raja Besar Pelalawan.

Lokasi pertempuran antara kerajaan Siak dan Pelalawan inilah kemudian dikenal sebagai `Banjir Darah di Mampusun~ yang menjadi saksi bisu pertempuran hebat dari kedua belah pihak. 

(narsum: salah seorang pengurus LAM Pelalawan: T. Jasran)

Berita Terkait

Pendidikan

Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah

Pendidikan

Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Pendidikan

Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin

Pendidikan

Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar

Pendidikan

Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu

Pendidikan

Wabup Yuliantini Sampaikan Sambutan Bupati Inhil Terhadap Rekomendasi DPRD Tentang LKPJ Bupati Inhil Tahun 2025