kabarmelayu.com,PEKANBARU - Persatuan Wredatama Republik Indonesia (
PWRI) Provinsi Riau menegaskan bahwa purna tugas kedinasan bukan menjadi akhir pengabdian mantan Aparatur Sipil Negara (
ASN) kepada bangsa dan negara. Imbauan tersebut disampaikan Ketua
PWRI Riau, Brigjen TNI (Purn) H. Saleh Djasit, saat memimpin peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64
PWRI di Pekanbaru, Rabu (12/8/2026).
Saleh Djasit menjelaskan bahwa perjalanan lebih dari enam dekade telah membuktikan peran strategis PWRI sebagai wadah pengabdian para purna tugas. Ia menyebut pengalaman, integritas, serta dedikasi seluruh anggota merupakan aset bangsa yang harus terus dimanfaatkan bagi masyarakat.
Menurut mantan Gubernur Riau tersebut, keanggotaan PWRI bukan sekadar penanda selesainya masa tugas formal seorang pegawai negeri. Lebih dari itu, identitas keanggotaan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas rekam jejak pengabdian dan kerja keras melayani publik.
Ia memaparkan bahwa jajaran PWRI Riau diisi oleh para pensiunan dari pelbagai latar belakang profesi, mulai dari guru, birokrat, administrator, hingga pejabat kementerian. Seluruh elemen tersebut dinilai telah meletakkan fondasi penting bagi keberlangsungan sistem birokrasi dan pelayanan umum di Indonesia.
Saleh Djasit mengingatkan bahwa berbagai fasilitas publik dan hasil pembangunan yang dinikmati masyarakat saat ini tidak terlepas dari kontribusi para purna tugas. Karena itu, ia mendorong para pensiunan untuk tidak berhenti membagikan ilmu serta keteladanan kepada generasi penerus.
Ia menekankan bahwa hal yang berakhir saat pensiun hanyalah jabatan struktural serta tugas administratif harian. Sementara itu, semangat pengabdian serta rasa cinta terhadap tanah air tidak memiliki batasan waktu.
Selain menyoroti peran pengabdian, Saleh Djasit mengajak seluruh anggota PWRI Riau untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan organisasi. Ia menegaskan bahwa PWRI dibangun atas dasar semangat kebersamaan dalam melayani negara, bukan atas dasar kesamaan pandangan politik.
Ia mengimbau seluruh pensiunan ASN untuk menyampingkan perbedaan latar belakang yang berpotensi memicu perpecahan. Sebaliknya, keragaman pengalaman yang dimiliki para anggota harus disatukan menjadi kekuatan untuk memajukan organisasi.
Menurutnya, persatuan yang kokoh di dalam tubuh PWRI menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan serta ketenteraman para Wredatama. Langkah tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih luas bagi pembangunan daerah dan nasional.
Saleh Djasit menambahkan bahwa keberadaan para purna tugas yang matang dalam birokrasi sangat dibutuhkan untuk menjaga keharmonisan di tengah dinamika masyarakat. Anggota PWRI diharapkan mampu menjadi contoh kedewasaan dalam menyikapi perbedaan di lingkungan sosial.
Ia menyebut seorang ASN boleh berhenti dari jabatan formalnya ketika memasuki masa purna bakti. Namun, jiwa pengabdian seorang pejuang masyarakat diyakini akan tetap hidup selama ingatan dan pikiran masih jernih.
Mengakhiri arahannya, Saleh Djasit mendoakan agar seluruh anggota PWRI Riau senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjaga persaudaraan. Kekompakan antaranggota dinilai sebagai modal utama agar organisasi dapat konsisten memperjuangkan hak-hak para pensiunan.