kabarmelayu.com,JAKARTA - Dalam rangka mengantisipasi terjadinya kekeringan akibat musim kemarau ekstrem 2025, Kementerian
Pertanian (Kementan) meminta pemerintah daerah (Pemda) terus berupaya memperkuat antisipasi dan mitigasi terjadinya kemarau.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan RI, Muhammad Agung Sanusi menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April-Mei dan Juni 2026 dengan puncaknya terjadi di Bulan Agustus 2026.
Muhammad Agung Sanusi menyebutkan, prediksi musim kemarau ini diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
"Puncak kemarau terjadi di bulan Agustus, mohon menjadi perhatian dan ada langkah-langkah antisipasi mitigasi yang segera kita lakukan untuk prediksi kemarau 2026," katanya dalam rakor pengendali inflasi, disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Selasa (5/5/26).
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan melanjutkan, prediksi puncak musim kemarau tahun 2026 ini di prediksi akan terjadi pada Bulan Agustus.
Kata dia, saat ini masih terjadi musim hujan di beberapa daerah, karena itu ia meminta agar pemerintah berkoordinasi dengan para petani untuk mengoptimalkan pemanfaatan perpompaan dan upaya lainnya dalam mitigasi kekeringan.
"Mumpung curah hujan kita masih tinggi di April hingga Mei 2026 ini, kami mohon kerja sama bapak ibu sekalian terkait optimalisasi pemanfaatan penggunaan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, penanaman pada lahan cetak sawah dan oplah yang sudah siap tanam," ujar dia.
Muhammad Agung Sanusi menambahkan dalam upaya mitigasi kemarau ini, Kementan telah menjabarkan beberapa upaya yang bisa dilakukan, mulai dari sebelum, saat dan setelah terjadinya kemarau.
Dia mengungkapkan, sebelum terjadinya musim kemarau, Pemda bisa melakukan perencanaan musim tanam, dengan melakukan mapping wilayah langganan kekeringan, EWS dan pantau secara rutin prediksi CH dari BMKG, siap siaga brigade kekeringan, P3A, ulu-ulu, koordinasi dan sinergi.
Selanjutnya, pada tahap perencanaan ini, Pemda juga bisa melakukan upaya penyediaan sarana produksi dengan menyiapkan benih tahan kekeringan, pemupukan berimbang dan tepat.
"Penguatan infrastruktur air dengan melakukan rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan embung, sumur air dangkal atau dalam, serta long storage," ujarnya.
Muhammad Agung Sanusi melanjutkan, untuk tahap adaptasi saat musim kemarau, bisa melalui upaya pengelolaan lahan hemat air irigasi intermiten, sistem gilir air.
Kemudian, melakukan pola tanam adaptif dengan memprioritaskan tanam di lahan rawa dan minimal IP 250, tingkatkan IP dan provista di lahan irigasi teknis, tanam di lahan kering dan tadah hujan dengan pompa, irpom dan irpipa. Serta melakukan pengelolaan tanah dengan penambahan bahan organik atau olah tanah minimum.
Selanjutnya, langkah dalam memitigasi atau mengurangi dampak kekeringan, bisa dengan melakukan asuransi pertanian yakni pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan bantuan benih gratis bagi yang puso.
Manajemen risiko produksi dengan dilakukan penjadwalan tanam secara bertahap, tidak serempak untuk semua lahan dan cadangan air darurat.
"Bantuan pemerintah melalui bantuan pompa air irigasi perkumpulan irigasi perpipaan, bangun konservasi benih dan subsidi input lainnya," tutupnya.