kabarmelayu.com,PEKANBARU- Indeks Ketimpangan
Gender (
IKG) Provinsi Riau menunjukkan perbaikan pada tahun 2025. Badan Pusat Statistik mencatat
IKG Riau berada di angka 0,445, turun 0,026 poin dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 0,471.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi mengatakan, penurunan ini menjadi sinyal positif dalam upaya mendorong kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di berbagai sektor.
"Indeks Ketimpangan Gender Provinsi Riau tahun 2025 sebesar 0,445, turun 0,026 poin dibandingkan tahun 2024. Penurunan ini dipengaruhi oleh perbaikan di seluruh dimensi pembentuknya," ujar Asep Riyadi, Selasa.
Perbaikan tersebut terjadi pada tiga dimensi utama, yakni kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja.
Pada dimensi kesehatan reproduksi, risiko yang dihadapi perempuan semakin menurun, tercermin dari berkurangnya persalinan di luar fasilitas kesehatan serta menurunnya angka kelahiran usia muda.
"Perbaikan pada dimensi kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa risiko kesehatan perempuan berhasil ditekan dalam beberapa tahun terakhir," jelasnya.
Pada dimensi pemberdayaan, peningkatan pendidikan perempuan menjadi faktor penting dalam mendorong kesetaraan. Persentase perempuan usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan minimal SMA mengalami kenaikan, sementara pada laki-laki justru sedikit menurun.
Selain itu, keterwakilan perempuan di legislatif juga kembali meningkat pada 2025, meskipun indikator ini masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketimpangan gender.Sementara pada dimensi pasar tenaga kerja, kesetaraan semakin terlihat dari meningkatnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan yang mencapai 47,68 persen pada 2025.
"TPAK perempuan meningkat, sementara laki-laki sedikit menurun. Ini menunjukkan peluang perempuan untuk masuk ke pasar kerja semakin terbuka dan setara," ungkap Asep.
Secara tren, IKG Riau dalam empat tahun terakhir masih mengalami fluktuasi. Namun secara keseluruhan, sejak 2021 terjadi penurunan sebesar 0,032 poin, atau rata-rata turun 0,008 poin per tahun.
"Meski trennya fluktuatif, secara umum ketimpangan gender di Riau menunjukkan perbaikan dalam jangka menengah," tambahnya.
Dari sisi wilayah, sebagian besar kabupaten/kota di Riau juga mencatat penurunan ketimpangan gender. Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan tingkat ketimpangan terendah, disusul Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis.Sebanyak sembilan kabupaten/kota mengalami penurunan IKG, dengan penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Rokan Hulu yang didorong oleh perbaikan signifikan pada dimensi kesehatan reproduksi.
Meski demikian, masih terdapat disparitas antarwilayah. Dari 12 kabupaten/kota di Riau, hanya tujuh daerah yang memiliki capaian IKG lebih baik dibandingkan rata-rata provinsi.
Asep menegaskan, hasil ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah dalam memperkuat kebijakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan gender.
"Penurunan IKG ini menunjukkan arah yang positif, namun kesenjangan gender masih ada sehingga perlu upaya berkelanjutan untuk mendorong kesetaraan di semua sektor," tutupnya.