Gubri Diminta Telaah Kembali Soal Pungutan

Harijal - Jumat, 13 Maret 2020 00:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/03/29a539032020_untitled15.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
fin/re

PEKANBARU, riaueditor.com - Kendati tahun ini Pemprov Riau telah menganggarkan BOSDA pendidikan  Rp 404 miliar, namun belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Oleh karena itu Gubri diminta menelaah kembali larangan pungutan uang komite.

Hal itu disampaikan anggota komisi V DPRD Riau Ade Hartati Rahmat MPd, menyikapi keluhan SPM pendidikan SMA dan SMK Negeri usai berdiskusi dengan sejumlah Kepala Sekolah, Kamis (12/03/20).

"Bahwa untuk pemenuhan SPM saja, kita belum mampu. Kalau tidak melibatkan sumbangsih orangtua, ini yang perlu didiskusikan dan ditelaah kembali", kata politisi PAN tersebut.

Ia menerangkan BOSDA untuk siswa SMAN Rp 1,5 juta per tahun. Untuk SPM tingkat SMA tersebut butuh Rp 4 juta. Sementara BOSDA dan BOSNAS baru memenuhi Rp 3 juta.

Sementara BOSDA dan BOSNAS untuk SMK Rp 3,2 juta per tahun. Sedangkan untuk SPM butuh Rp 5 juta per tahun.

Ade menerangkan beberapa hari terakhir Komisi V DPRD Riau mengundang para kepala sekolah SMA dan SMK Negeri. Terutama terkait dengan PPDB.

"Dari sana muncullah permasalahan yang hampir tidak pernah tersentuh oleh Pemprov, salah satunya prasarana," katanya.

Salah satu SMK di Inhil kata Ade, didirikan tahun 1965 dan tak pernah revitalisasi sampai sekarang. 

Bahkan di kota Pekanbaru juga ada yang memerlukan revitalisasi. Artinya perlu pembenahan sarana dan prasarana. 

Terkait masalah PPDB sebut Ade, tiap daerah berbeda-beda. Kalau di Pekanbaru, rasio siswa dengan jumlah kelas tidak seimbang. Maka setiap tahun timbul masalah ketika soal zonasi tidak didudukkan bersama.

Namun di kabupaten kata Ade, PPDB hampir tak ada kendala karena rasio jumlah siswa dengan rasio jumlah kelas seimbang. 

Selain itu, dalam pertemuan dengan para kepala sekolah tersebut, terungkap tunjangan kinerja kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.

Ia mengatakan, meski sudah diusulkan di RKA namun tidak direalisasikan dalam APBD. Dan yang paling krusial kata Ade, surat edaran Gubernur melalui Kadisdik Riau tentang larangan pungutan.

Menurutnya, kalau mengacu pada Permendikbud 75 tahun 2016 tentang komite sekolah, dan itu sudah diatur. (fin)

Berita Terkait

Parlemen

Mulai Hari Ini Akses Masuk Tol Pekanbaru Dialihkan ke Pintu Bypass

Parlemen

Pimpin Apel Gelar Pasukan Siaga Karhutla, Wabup Siak Dorong Perusahaan Ikut Jaga Lahan Sekitar

Parlemen

HUT Polwan Ke-78, Police Woman Goes To School Kunjungi UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota

Parlemen

Pelaku Industri Didorong Bantu UMKM dan Kembangkan Industri Halal

Parlemen

Pemko Pekanbaru Tingkatkan Status Siaga Karhutla Jadi Tanggap Darurat

Parlemen

Pokja Newsrom Jaga Desa SMSI, Manifestasi Kukuhkan NKRI