Ananda Sukarlan Belajarlah pada Minoritas Muslim Lamakera

Oleh: MHR Shikka Songge
Harijal - Rabu, 15 November 2017 18:03 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/11/a14e46112017_0000kampunglamaholotlamak.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
MHR Shikka Songge
Kampung nelayan Lamakera, di pesisir Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur.

Maestro musik Ananda Sukarlan dan ratusan orang lainnya meninggalkan aula saat Gubernur DKI Anies Baswedan sedang memberikan Pidato Peringatan 90 Tahun Lembaga Pendidikan Kanisius, dan  masuk kembali setelah selesai Anies menyampaikan pidato. 

Sikap yang demikian ini adalah sikap a sosial (antiisosial), sikap tidak terpelajar, dan beradab layaknya kaum primitif yang tidak faham peradaban berdemokrasi. 

Saya orang Lamakera, sebuah desa pesisir perkampungan Muslim yang berada di Pulau Solor Kabupaten Flores Timur. Kami memang kaum minoritas Muslim dan secara politik belum mungkin mencalonkan wakil bupati apalagi bupati. 

Kami sangat paham, meskipun dalam demokrasi memungkinkan kami bisa berkompetisi untuk ikut dalam pilkada itu. 

Akan tapi kami berbudaya ‘orang sekolahan’ yang tahu diri, sadar diri, tahu menempatkan diri, tahu hak kami yang minoritas secara geniun. 

Kami memang sadar minoritas dalam angka, namun kami memiliki kelas berperadaban demokrasi yang sangat baik. Olehnya, bupati kami Flores Timur meski ia seorang penganut Katholik ia sudah berkali kali datang menyapa kami di perkampungan Muslim. 

Dan kami menyambut kedatangannya dengan serimoni adat yang luar biasa. Kami memberikan ia mimbar peradaban untuk berpidato. Ya, meski kami beda dalam iman, beda dalam keyakinan, namun semua itu tidak mengurangi sedikitpun akhlak dan adab kami menghormati sang bupati.

Ada baiknya mereka seperti Ananda Sukarlan belajarlah pada kami minoritas Muslim Lamakera di Pulau Solor yaang terpencil dan hidup dalam kondisi belum semakmur anda dan warga Jakarta. 

Meski begitu, kami yakin kami masih punya nurani dari pada kalian yang terus menpertontonkan perilaku primitif di area pertemuan terbuka dan di depan khalayak ramai yang katanya terhormat itu.

Kampung nelayan Lamakera yang kadang di musim tertentu melakukan pesta adat berburu ikan paus itu  ternyata lebih berarti dari pada segala klaim yang anda pidatokan. 

Salam dari kami orang kecil dari pesisir pulau kecil di kawasan timur Indonesia.

 

(MHR Shikka Songge)

Warga Kampung Nelayan Lamakera, Pulau Solor.

Berita Terkait

Opini

Mulai Hari Ini Akses Masuk Tol Pekanbaru Dialihkan ke Pintu Bypass

Opini

Pimpin Apel Gelar Pasukan Siaga Karhutla, Wabup Siak Dorong Perusahaan Ikut Jaga Lahan Sekitar

Opini

HUT Polwan Ke-78, Police Woman Goes To School Kunjungi UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota

Opini

Pelaku Industri Didorong Bantu UMKM dan Kembangkan Industri Halal

Opini

Pemko Pekanbaru Tingkatkan Status Siaga Karhutla Jadi Tanggap Darurat

Opini

Pokja Newsrom Jaga Desa SMSI, Manifestasi Kukuhkan NKRI