Zachary West: Islam, Agama yang Selama ini Saya Rindukan

Harijal - Selasa, 28 Februari 2017 07:57 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/02/d35465022017_0000mualafilustrasi_14082.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
ilustrasi
Mualaf

Zachary West masuk Islam pada 2010 lalu. Saat itu, usianya baru 22 tahun. Saat diwawancarai Overcome TV, seperti dikutip dari About Islam.net, awalnya West muda aktif di sebuah gereja Katolik. Ia lebih dikenal sebagai anak asisten pastor. Karena itu, ia terbiasa dengan suasana religius Kristiani sejak dini.

Dengan sang pastor pun West cukup dekat dan akrab, bagaikan ayah sendiri. Kemudian, West melanjutkan pendidikan menengahnya ke sebuah SMA publik. Sebagaimana para murid baru di sana, ia bebas mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia.

Saat itu, entah mengapa West justru tertarik pada klub studi terkait agama-agama, alih-alih kegiatan lainnya yang bersifat rekreasional.

Di sinilah West pertama kali mengenal Islam. Uniknya, ceramah tentang Islam yang pertama kali didengarnya bukanlah dari seorang Muslim, melainkan perempuan Nasrani yang berasal dari Sekte Mormon.

Bagaimanapun, penjelasannya mengenai Islam cukup menarik perhatian West. Ia mengenang, saat itu secara sambil lalu ia menegur sahabat sekelasnya dan berkata, Hei, Rayan. Mengapa kita tidak percaya agama ini (Islam) saja?

Sahabatnya itu tentu saja mengira West hanya berseloroh dan mengatakan agar West tidak usah pusing-pusing mempersoalkan agama lain. Padahal, menurut West, di usia semuda itu ia justru tertarik soal-soal mengenai ketuhanan. Khususnya, bagaimana hubungan antara Pencipta dan ciptaannya, termasuk manusia.

Pemikiran yang cukup melampaui kawan-kawan seusianya di SMA. Dalam usia semuda itu, West memperhatikan, banyak orang di sekolah atau Amerika pada umumnya tidak meyakini adanya tuhan. Bukan lantaran tidak percaya, melainkan kurang mencari tahu.

Akan tetapi, West muda masih belum cukup berani menyatakan dengan gamblang ketertarikannya terhadap Islam. Agama ini masih begitu minoritas dan ia pun takut dikucilkan bilamana melawan arus.

"Makanya, kalau-kalau saya (saat itu) mengikuti jalan ini (memeluk agama Islam), saya takut akan diasingkan kawan-kawan. Saya akan dianggap pecundang besar oleh seisi sekolah. Teman-teman akan meninggalkan saya dan sebagainya," kata West.

Apalagi, West saat itu bisa dikatakan tidak mengenal satu pun orang Islam. Sementara itu, media-media massa nasional kerap memberitakan Islam sebagai agama yang penuh stigma-stigma mendukung kekerasan.

Namun, sekali lagi, propaganda yang menyasar Islam justru semakin membangkitkan rasa ingin tahunya. Ia ingin melihat terlebih dahulu, bagaimana Islam memandang esensi ketuhanan.

West pun sempat bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah dengan memeluk Islam otomatis seseorang akan menjadi pendukung teroris? Apakah Islam dengan sendirinya mengajarkan kekerasan terhadap pemeluk agama ini?

West memahami bahwa apabila seseorang memeluk sebuah agama, orang itu harus berkomitmen sepenuhnya terhadap agama itu. Yang ia ragu, apakah propaganda media-media tentang Islam sesuai dengan esensi Islam itu sendiri.

"Saya tak tahu apa-apa soal bom bunuh diri dan segala macam (bersumber dari ajaran Islam)," katanya.

Untuk menuntaskan rasa ingin tahu, West yang masih usia SMA itu pun membeli buku terjemahan Alquran berbahasa Inggris. Kitab suci Alquran memang cukup mudah diperoleh di toko-toko buku.

Ia meyakini, untuk memahami sebuah agama, orang harus terlebih dahulu menelisik apa saja ajaran tertulis yang diimani mereka. Inilah dasar dari sikap agama. Bukan berasal dari propaganda-propaganda media.

Bagi West, membuka Alquran, meskipun hanya terjemahannya, merupakan pengalaman unik. Selama ini, ia hanya membuka kitabnya sebagai pemeluk agama Nasrani.

Ia belum menyadari keterkaitan antara kitab-kitab suci dalam Islam dan agama yang dipeluknya itu. West mengira, antara Alquran dan Injil masing-masing terpisah dalam eksklusivitas. Ternyata, di dalam Alquran disinggung pula kitab-kitab terdahulu.

Ini disadari West ketika, secara kebetulan, ia membuka terjemahan Alquran itu dan sampai pada surah al-An’am ayat ke-92. Ia begitu terkesima dengan kata-kata yang tercantum di sana:

Dan ini (Alquran), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah).

Ini terjadi menjelang 2010. Butuh waktu yang cukup lama bagi West meneguhkan hatinya kepada Islam.

Hingga pada suatu hari (West tidak menyebutkan tanggalnya--Red), West membuka kembali Injil dan membaca terjemahan Alquran secara bersebelahan. Kesadaran tumbuh dalam dirinya.

Ia menilai, keyakinannya terhadap Islam justru kian menguatkan rasa percayanya kepada Tuhan, sebagaimana yang didapatnya dari Injil.

"Ini (Islam) semata-mata memperkuat segala yang tercantum dalam Injil, sehingga membuatku kian menjadi seorang beriman yang kuat, sebagaimana mula. Islam semakin menguatkan rasa itu," kata dia.

Maka itu, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan sebuah majelis masjid di kota dekat tempat tinggalnya. Sejak saat itu, West resmi menjadi seorang Muslim. Namun, ia menegaskan, tak ada perubahan pada dirinya kecuali menjadi insan yang lebih baik.

"Saya tak mau berubah, dan saya tidak berubah menjadi orang yang berperilaku jahat. Namun, memang inilah agama yang selama ini saya rindukan untuk diimani. Ini memperkuat saya," tuturnya.

Islam baginya seakan-akan membuka tabir hubungan antara manusia dan Pencipta. Ia secara implisit mengakui, dengan masuk Islamnya, kedua orang tua West cukup terkejut.

Hal ini yang membuatnya sempat bersedih, tetapi hal itu tak mengubah pendiriannya. Dengan terus berinteraksi secara wajar dan santun kepada keduanya, West merasa tak ada yang perlu dipersoalkan.

"Saya katakan, kumohon, mohon sekali, sampaikan ini (kabar keislaman) kepada orang tuaku, ujarnya.

Dari pengalamanku ini, Islam adalah getaran. Islam membuat alasan keberadaan dirimu dan tujuan hidupmu jelas, benar-benar lega dan mudah. Islam memudahkan diri kita dan menghendaki kemudahan bagi semua.(ROL)

Berita Terkait

Opini

Siak Raih Peringkat VI pada MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau, Wabup Syamsurizal: Terus Tingkatkan Prestasi

Opini

Penyelundupan 652 iPhone Ilegal via Pelabuhan Bengkalis Digagalkan

Opini

DK PWI Pusat Desak Riau Pos Grup Bayar Hak Eks Karyawan

Opini

Polri untuk Masyarakat, Kapolda Riau Tinjau Jembatan Merah Putih di Dumai

Opini

Pastikan Keamanan Stok Beras, Menko Polkam Tinjau Gudang Bulog di Sumut

Opini

Bhabinkamtibmas Polsek Kandis dan Petani Antisipasi Dampak Musim Demi Menjaga Produksi Jagung