Muhammadiyah Tak Sepakat Klaim Ma’ruf soal Radikalisme PAUD

Harijal - Kamis, 05 Desember 2019 08:48 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/12/54d710122019_untitled4.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir tak sepakat dengan Wapres Ma’ruf Amin soal soal radikalisme di PAUD.

JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir tak sepakat dengan klaim Wakil Presiden Ma’ruf Amin soal instansi pendidikan anak usia dini (PAUD) mengajarkan radikalisme ke peserta didik.

Menurut Haedar, pemerintah tidak perlu membuat kesimpulan umum jika menemukan satu kasus radikalisme diajarkan di lembaga pendidikan. Sebab hal itu akan merendahkan peran mulia lembaga pendidikan.

"PAUD dan lembaga-lembaga pendidikan itu sangat mulia tugasnya. Bahkan banyak guru-guru PAUD itu kerelawanan sampai ke pelosok. Kami Aisyiah punya 20 ribu lebih PAUD, itu justru punya kekuatan menjadi pilar mencerdaskan bangsa dan mendidik karakter generasi," kata Haedar saat ditemui di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (4/12) malam.

Haedar menilai pemerintah kurang seksama dalam membaca fenomena radikalisme. Dia menyarankan pemerintah perlu bertemu organisasi masyarakat keagamaan guna menambah perspektif dalam menyikapi radikalisme.

Ia juga mengusulkan pemerintah mendefinisikan ulang radikalisme. Sebab selama ini pemerintah lebih banyak membuat pernyataan kontroversial yang berpotensi mengganggu kerukunan di Indonesia.

"Agar kita mendefinisikan ulang apa yang kita sebut terpapar radikalisme, kemudian juga sasarannya, objeknya agar kita tidak saling tuding dan saling bantah yang akhirnya kita menjadi kontraproduktif" ucap Haedar.

Sebelumnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan Kementerian Agama bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menelusuri dugaan radikalisme diajarkan di PAUD. Hal itu ia sampaikan saat Desa Tangkilsari, Kabupaten Malang, Rabu (27/11).

Pernyataan itu bukan kali pertama Ma’ruf menyebut ada dugaan pengajaran radikalisme di lembaga pendidikan. Sebelumnya, Ma’ruf juga menyampaikan perlu pengajaran pada anak sejak PAUD hingga tingkat SD untuk melawan radikalisme.

"Kita ingin libatkan secara keseluruhan, terorganisasi, tersinergi, komprehensif, sehingga perkembangan radikalisme (dapat dicegah) dari hulu sampai ke hilir. Mulai pendidikan, bukan hanya SD, dari PAUD juga mulai ada gejala, dari TK tokoh-tokoh radikal itu sudah dikenalkan," ujar Ma’ruf di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (15/11).

Hal serupa pernah disampaikan Ma’ruf merespons informasi kepolisian tentang guru mengaji berinisial SA terlibat bom bunuh diri di Medan, Sumatera Utara.

"Jangan sampai ada guru ngaji yang mengajarkan paham radikal, itu intinya. Guru ngaji ini harus mengajarkan ajaran yang moderat, ajaran yang wasatiyyah," kata Ma’ruf pada kesempatan yang sama.

(cnbcindonesia.com)

Berita Terkait

Nusantara

PPWI Inhil, BDPN, Kades dan Warga Pungkat Bahu Membahu Padamkan Api yang Membakar Kebun Warga

Nusantara

PLN Tembilahan Belum Tuntaskan Kabel Semrawut

Nusantara

9 Perusahaan Siap Perbaiki 6,44 Kilometer Jalan Simpang KITB-Sungai Rawa

Nusantara

Agung Nugroho Senang Anak-anak Kembali Sekolah

Nusantara

Karhutla Riau Mulai Terkendali

Nusantara

Sekda Inhil Hadiri Paripurna ke-15 DPRD. Masa Persidangan VI Ditutup dan Persidangan VII Dibuka