Din Syamsudin: Yang Bilang Pancasila Harga Mati Juga Radikal

Harijal - Kamis, 28 November 2019 12:05 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/11/9b19ef112019_untitled7.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Mantan Ketum Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

JAKARTA - Cendekiawan muslim, Din Syamsuddin mengkritisi penggunaan kata radikal atau radikalisme yang kerap digunakan untuk menggambarkan sikap ekstrem seseorang. Menurut Din, istilah radikal sesungguhnya tak selalu bermakna buruk.

"Radikalisme itu secara terminologis bisa positif bisa negatif. Karena radikal itu bisa positif, kami berpegang teguh. Pancasila harga mati, itu radikal, radikal itu akar. Jadi yang bilang NKRI berdasarkan Pancasila harga mati, itu sikap radikal," terang Din saat ditemui di ruangannya di Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Rabu (27/11) malam.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini berpandangan cara berpakaian atau penampilan seseorang tak bisa serta merta dicap terkait radikalisme. Misalnya bercelana cingkrang atau berjenggot yang seusai syariat Islam.

"Kalau beragama dan menjalankan dengan syariat yang diyakininya--berjenggot, bercelana cingkrang--itu keyakinan beragama yang dijamin konstitusi," ujar dia.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu melanjutkan, setiap warga negara memiliki kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan. Maka praktik-praktik dalam beribadah pun tak bisa dilarang, termasuk cara berpenampilan.

"Itu [cingkrang atau berjenggot] ada kaitannya dengan terorisme? Yang meledakkan bom kan banyak juga yang pakai celana jins, banyak yang kemudian berpakaian lain," ungkap dia.

Selain penggunaan istilah, kerancuan nalar tersebut menurut dia juga harus diperbaiki. Din tak ingin kekeliruan mendeteksi itu justru berujung pada tuduhan tendensius ke kelompok tertentu.

Din pun menjelaskan, istilah yang berkembang di dunia mengenai sikap yang mengarah pada keinginan mengubah sesuatu yang sudah berakar, disebut dengan ekstremisme. PBB memakai istilah itu. Sementara itu sikap ekstrem yang diikuti dengan kekerasan disebut dengan violence of extremism.

"Sikap yang melampaui batas, sikap yang tiran. Itu tidak dibenarkan oleh agama manapun, termasuk Islam. Apalagi kalau ekstremisme itu menggunakan kekerasan. Ini yang sekarang menjadi tantangan dunia," kata Din yang mengaku baru berdiskusi masalah serupa dengan perwakilan PBB, Profesor Azza Karam.

PBB, kata dia, juga tengah gencar menangani masalah ekstremisme. Namun cara yang ditempuh bukan dengan mengonter, melainkan mencegah.

"PBB lebih memilih, bukan counter kekerasan ektremisme, tapi preventing extremism melalui SDGs. Pendekatan PBB itu soft, bagaimana cara mencegah kekerasan ekstrim dengan membangun kehidupan manusia, membebaskan dari kemiskinan dan kebodohan," ucapnya. 

(cnnindonesia.com)

Berita Terkait

Nusantara

Api Padam, Pekerjaan Belum Selesai

Nusantara

Fenomena Bulan Darah Ubah Langit Menjadi Merah Api

Nusantara

PPWI Inhil, BDPN, Kades dan Warga Pungkat Bahu Membahu Padamkan Api yang Membakar Kebun Warga

Nusantara

PLN Tembilahan Belum Tuntaskan Kabel Semrawut

Nusantara

9 Perusahaan Siap Perbaiki 6,44 Kilometer Jalan Simpang KITB-Sungai Rawa

Nusantara

Agung Nugroho Senang Anak-anak Kembali Sekolah