Harga Bensin Rp 100.000, 1.582 Kecamatan Tak Punya Agen BBM

Harijal - Rabu, 24 Juli 2019 18:06 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/07/5f81e3072019_untitled16.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(CNBC Indonesia/Yuni Astutik)
Foto: Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meresmikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak 66.757007 di Desa Ujoh Bilang, Long Bagun, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyebut harga BBM di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) bisa sangat mahal, bahkan ada yang mencapai Rp 100 ribu.

"Di Papua (harga) sampai Rp 100 ribu lebih. Di Mahakam Ulu bisa Rp 50 ribuan. Ini fakta," kata Kepala BPH Migas, M Fanshurullah Asa kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

BPH Migas mencatat, saat ini total ada 1.582 kecamatan yang belum memiliki penyalur. Pemerintah akan menggenjot pembangunan 330 penyalur hingga 2024. Artinya, meski program tersebut terealisasi, masih ada 1.252 wilayah yang belum memiliki penyalur.

Tercatat pula, total jumlah penyalur di Indonesia mencapai 7.251, dimana 7.011 diantaranya adalah Pertamina. Jika dihitung, secara rasio untuk Pulau Jawa saja, satu penyalur bisa mencakup wilayah seluas 36,11 km persegi, atau setara dengan 31 ribu penduduk.

Angka ini akan berbeda jika menghitung rasio di luar Pulau Jawa. Dimana satu SPBU bisa mencakup wilayah seluas 502 km persegi, dan bahkan satu SPBU mencakup wilayah seluas 1.220 km persegi untuk wilayah 3T.

"Ini dahsyat sekali, pengusaha tak mau masuk di wilayah 3T, maka ide BPH Migas, sub penyalur di wilayah 3 T melalui BBM satu harga," jelasnya.

Adapun Kabupaten di wilayah 3T terdiri dari 2.319 kecamatan, 692 kelurahan dan lebih dari 18.400 desa. Investasi pembangunan penyalur berupa SPBU reguler di wilayah tersebut bisa memakan investasi mencapai Rp 5-8 miliar.

Untuk itulah diusulkan pembuatan Mini SPBU berbasis kecamatan, dengan investasi yang jauh lebih murah. Modal investasi mulai dari Rp 40-500 Juta yang terdiri dari 1 dispenser dengan 2 Nozzle.

"Saya sayarankan untuk membangun itu untuk membantu masyarakat, mendapatkan income buat badan milik desanya untuk membangun desanya. Returnya tidak sampai satu tahun, tergantung trafik," ujarnya.(cnbcindonesia.com)

Berita Terkait

Nusantara

Pramuka Kwarcab 04.02 Ikuti Kegiatan KKRI di Makodim 0314/Inhil

Nusantara

Polda Riau Kerahkan Tim RAGA dan Brimob Jaga Keamanan Masyarakat saat Pemadaman Listrik

Nusantara

Raih Juara 2, Koramil 05/RM Turut Meriahkan Futsal Cup 2026 Polsek Rimba Melintang

Nusantara

Pemkab Inhil Gelar Rakor Siaga Darurat Karhutla 2026

Nusantara

Susuri Pesisir Siak, Afni Bawa Seragam Gratis dan Pesan tentang Masa Depan

Nusantara

PLN Gangguan, Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau Padam!