TKI di Hong Kong Kritik Pernyataan Jokowi

Harijal - Senin, 01 Mei 2017 19:16 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/05/2fa666052017_0000tkihongkong.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Presiden Joko Widodo (Jokowi)

HONG KONG - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan sikap tidak simpati terhadap masalah utama para pekerja Indonesia yang berada di Hong Kong. Selama ini, tenaga kerja, terutama wanita kerap menghadapi bentuk eksploitasi. 

Tak sedikit TKI yang dilaporkan rentan mengalami penganiayaan saat bekerja di luar negeri. Karena itu, serikat pekerja Indonesia yang berada di Hong Kong meminta agar hak para migran dapat dipenuhi dengan lebih baik. Mereka kemudian melakukan aksi protes di depan kantor Konsulat Indonesia. 

"Saya harap presiden bisa membuat tempat kerja kami jadi lebih aman, selama ini kami bekerja dan banyak aturan yang dilanggar oleh majikan saya," ujar seorang TKI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga bernama Miasih, dilansir DW.com, Senin (1/4). 

Namun, Jokowi dalam kunjungannya ke salah satu kota administratif khusus Cina itu justru mengatakan tidak seharusnya para TKI mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Ia menganggap bahwa sejumlah kasus yang disebut sebagai eksploitasi tersebut hanyalah hal yang kecil. 

"Jangan biarkan hal-hal kecil menimbulkan permasalahan yang berujung bentrokan dan perpecahan," ujar Jokowi. 

Para pekerja yang mendengar pernyataan itu menilai Jokowi gagal menangani salah satu permasalahan utama para TKI. Selama ini, mereka rentan menjadi korban ekploitasi dari agen yang membawa mereka berada di sana. "Ini adalah sikap seorang presiden yang sangat buruk dan bahkan dia tidak memiliki rasa hormat terhadap kami yang jadi korban," jelas Miasih.

Ia menjadi salah satu pekerja yang merasa diekploitasi oleh majikan dengan diminta bekerja di dua apartemen. Padahal, sesuai kontrak dengan agen yang membawanya ke Hong Kong, ia seharusnya hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk satu apartemen.

Hingga saat ini, tercatat ada lebih dari 340 ribu pekerja rumah tangga asing yang berada di Hong Kong. Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari Indonesia serta Filipina. 

Kondisi para pekerja Indonesia di Hong Kong menjadi sorotan utama dunia pada 2014, lalu. Saat itu, seorang sisten rumah tangga dari Tanah Air bernama Erwiana Sulistyaningsih dilaporkan menjadi korban kekerasan majikannya. Tidak hanya dipukuli, ia bahkan juga dibiarkan kelaparan.

Selama ini, banyak agen yang disebut merekrut TKI secara ilegal dan mencoba melakukan perdagangan manusia. Bahkan, anak-anak dilaporkan kerap menjadi korban utama. (ROL)

Berita Terkait

Nusantara

Pemkab Inhil Gelar Rakor Siaga Darurat Karhutla 2026

Nusantara

Susuri Pesisir Siak, Afni Bawa Seragam Gratis dan Pesan tentang Masa Depan

Nusantara

PLN Gangguan, Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau Padam!

Nusantara

UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota Sabet Juara III Lomba Resensi Buku se-Kabupaten Kampar

Nusantara

PPWI Fasilitasi Keluarga Jenguk Jekson Sihombing di Lapas Nusakambangan

Nusantara

Pengamat: Sengketa F-SPTI Bengkalis Cukup Mengacu Putusan PN Jakarta Timur