Ini Penyebab Gempa Aceh Berdampak Kerusakan Besar di Pidie Jaya

Harijal - Kamis, 08 Desember 2016 15:37 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2016/12/674cb1122016_inipenyebabgempa.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Antara/Irwansyah Putra
Petugas mengoperasikan alat berat untuk mencari korban di salah satu bangunan yang runtuh akibat gempa 6.5 SR, di Desa Lueng Putu, perbatasan Pidie-Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/16).

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan dampak kerusakan infrastruktur yang besar akibat gempa yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

"Secara ukuran gempa sebenarnya termasuk menengah, namun ternyata dampak kerusakannya begitu besar. Kami menafsirkan ada tiga faktor yang menyebabkan hal tersebut yaitu kedangkalan gempa, struktur lapisan batuan, dan konstruksi bangunan," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Ego Syahrial ketika di Jakarta, Kamis (8/12/16).

Ego mengatakan bahwa untuk kedangkalan gempa, gerakan yang terjadi adalah pada permukaan paling luar sehingga dekat dengan lapisan tanah yang digunakan untuk menopang berbagai bangunan. Kedua adalah permasalahan lapisan batuan, di daerah Kabupaten Pidie Jaya lapisan penyusunnya adalah batuan kuarter dan tersier, di mana batuan tersebut memiliki sifat yang mudah lapuk, serta mudah berguncang, karena tidak mampu meredam banyak getaran. "Batuan yang lapuk itu, terkena getaran sedikit saja, akibatnya justru menjadi penghantar getaran tersebut, sehingga tidak mampu menahan banyak pergeseran dari lempeng tanah," katanya.

Kemudian, faktor struktur bangunan, sebagian bangunan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, memang tidak dirancang untuk tahan terhadap gempa, jadi bila terkena getaran bisa berakibat rusaknya struktur tersebut hingga dampak terburuk adalah roboh. Selain itu, berdasarkan temuan data, Provinsi Aceh ternyata menjadi salah satu lokasi pertemuan antara dua lempeng yang besar yaitu lempeng Hindia-Australia dan Eurasia. Ia menjelaskan jika lempeng tersebut bergerak sedikit saja maka akan memberikan guncangan yang besar.

Saat ini, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah menurunkan tim di lokasi gempa Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, untuk mempelajari kembali pemetaan yang sudah bergerak. "Lempengnya memang besar di Provinsi Aceh, namun prediksi kami yang melewati Kabupaten Pidie Jaya hanya cabang-cabang dari lempengan tersebut, ini sedang kami pelajari jalurnya," katanya.

Menurut penjelasannya, ada dua cabang lempeng yang melewati Kabupaten Pidie Jaya, yaitu cabang lempeng Samalanga dan Sekar Meridu. Namun, belum diketahui lempeng mana yang menyebabkan kerusakan besar tersebut. Saat ini, tim sedang berkoordinasi untuk mempelajari jalur cabang lempeng dan memetakan kembali sudah sejauh mana perkembangan lempeng tersebut bergerak.(ROL/rec)

Berita Terkait

Nusantara

Talam Durian Satu Kilometer dan 8000 ASN Mengaji di Pekanbaru akan Pecahkan Rekor Muri

Nusantara

Bupati Siak: Sensus Ekonomi Jadi Sumber Informasi Strategis Daerah Susun Kebijakan

Nusantara

PPWI Inhil Minta Pemda Inspeksi Seluruh Dapur MBG, Pastikan Pengelolaan Limbah Sesuai Standar

Nusantara

Polresta Pekanbaru Ungkap Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Kawasan Panger, Dua Orang Positif Methamphetamine

Nusantara

Wako Agung Putus Langsung Kabel Fiber Optik Ilegal di Ronggo Warsito Pekanbaru

Nusantara

Kemnaker Gandeng Boga Group Perluas Akses Kerja bagi Lansia