Isu Rapid Test Pesawat Dihapus, Ahli Sodorkan Alternatif

Harijal - Rabu, 19 Agustus 2020 19:31 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/08/da07b7082020_untitled20.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Ilustrasi rapid test. Ahli sodorkan alternatif syarat penumpang pesawat jika syarat rapid test dihapus.

JAKARTA - Ahli menyodorkan alternatif jika ketentuan rapid test Covid-19 untuk mendeteksi infeksi virus corona bagi calon penumpang pesawat benar-benar dihapus.

Menurut Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyarankan agar tetap ada aturan khusus bagi warga yang bepergian jika aturan rapid test memang dihapuskan.

Menurutnya, perlu ada pemberlakuan kriteria penumpang yang boleh bepergian dan pembatasan kepergian ke wilayah dengan kasus Covid-19 yang sedang meningkat.

Khusus untuk kriteria orang yang berpergian, misalnya mengisi formulir kesehatan. Di dalam formulir itu, orang yang diizinkan pergi harus tidak memiliki gejala seperti demam, batuk, gangguan penciuman. Pemeriksaan di pintu masuk oleh petugas atau tenaga medis juga harus tetap dilakukan.

"Idealnya dengan hasil PCR. Minimal surat keterangan sehat dokter Puskesmas atau klinik," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/8).

Sebab, ia menyebut aturan rapid test antibodi yang selama ini diberlakukan untuk penumpang pesawat tak efektif mendeteksi Covid-19.

"Rapid test antibodi memang tidak efektif untuk deteksi kasus infeksi Covid-19," ujarnya.

Di sisi lain, Dicky meminta pemerintah untuk melakukan inovasi dalam mendeteksi Covid-19. Salah satu inovasi itu adalah dengan menggunakan rapid test antigen yang memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dari rapid test antibodi dan lebih murah dari RT PCR.

Seperti SARS, Dicky menambahkan Covid-19 bisa menular dan menciptakan klaster di pesawat. Sehingga kepatuhan pada protokol kesehatan di pesawat tetap harus dijaga, misalnya memakai masker, menjaga jarak, meminimalkan sentuhan.

"Secara persentase di kisaran 1 persen dari total potensi penularan Covid-19 (di dalam pesawat). Memang relatif kecil, namun bukan berarti tidak ada," ujar Dicky.

Selain itu, dia kembali mengimbau masyarakat, pegawai pemerintah, dan swasta tetap membatasi perjalanan yang tidak perlu.

Sebelumnya,  Kementerian Perhubungan mengaku masih menunggu kelanjutan wacana hapus syarat hasil pemeriksaan rapid test bagi penumpang pesawat. Saat ini, belum ada tindak lanjut dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 soal wacana tersebut.

"Belum ada (kelanjutan), itu di satgas karena surat edaran dari mereka, kami hanya implementasi di lapangan, misalnya di pesawat, di kapal, di kereta seperti apa," ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/8).

Pihak maskapai menyambut positif wacana penghapusan rapid test bagi penumpang pesawat. Hal itu dinilai bisa meningkatkan minat masyarakat untuk berpergian tanpa terbeban syarat tersebut. 

(CNNIndonesia.com)

Berita Terkait

Nusantara

Tim Alpha Lakukan Fastrope ke Titik Api di Riau, Buka Jalan Tim Free Fall

Nusantara

PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta, Komitmen Bersama Kawal Industri Sawit Nasional

Nusantara

Ratusan Anggota Koperasi Produsen Tani Aman Makmur Didampingi Pengacara dan LSM Penjara Rohul Tuntut PT. SRL Tinggalkan Lahan 2.050 Hektare

Nusantara

Dinkes Bersama KONI Pekanbaru dan PMI Riau Bagikan 2000 Masker ke Pengguna Jalan

Nusantara

Peduli Stunting, Kwarcab Pramuka Pekanbaru Salurkan Bantuan di Senapelan

Nusantara

Karhutla di Tembilahan Menjalar Mendekati Pemukiman Warga