Beasiswa Diputus Diduga karena Mualaf, Ini Cerita Ibu Arnita

Harijal - Kamis, 02 Agustus 2018 00:15 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2018/08/c11b35082018_0000aauntitled1.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
IPB

MEDAN - Arnita Rodelina Turnip, mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB) menuntut keadilan. Beasiswa Utusan Daerah (BUD) yang diterimanya diputus sejak 2016 silam tanpa alasan yang jelas.

Lisnawati Manik pun terus memperjuangkan dan kejelasan hak anaknya. Hari ini, Selasa (31/7), dia datang ke kantor Ombudsman Perwakilan Sumut di Medan.

"Saya sudah ke Dinas Pendidikan tapi tidak ada jawaban. Stres dia karena pingin kuliah lagi," kata Lisnawati saat ditemui awak media.

Arnita dan Lisnawati merupakan warga desa Bangun Raya, kecamatan Raya Kahean, kabupaten Simalungun, Sumut. Bersama 27 mahasiswa asal Simalungun lain, mereka mendapatkan BUD di IPB pada 2015.

Arnita pun berkuliah di IPB sejak 2015. Namun, dia hanya bisa mengikuti kuliah satu semester. "Semester 2 tahun 2016, dia tidak terima dana lagi, dia dikeluarkan dari BUD Simalungun. Dia langsung depresi," ujar Lisnawati.

Tidak mendapat dana dari Pemkab, Arnita mencoba menutupi biaya kuliah dan hidupnya dengan bekerja. Mulai dari menjual donat, mengajar les siswa SD dan SMA, membuka usaha laundry, hingga berjualan online dia lakoni.

Namun, semua biaya tetap tidak tertutupi. Dia akhirnya dinonaktifkan sebagai mahasiswi IPB. Gadis itu pun tidak memberitahukan kondisinya kepada orangtuanya di kampung.

Puncaknya, ketika Lisnawati menelepon anak sulungnya itu. Arnita menjerit-jerit di ujung telepon. Dia mengaku stres."Kenapa aku dikeluarkan. Apa karena aku masuk Islam. Mamak kan tahu aku masuk Islam juga permisi. Jadi aku bukan radikal. Tolong mamak bantu aku," ujar Lisnawati menirukan anaknya.

Arnita memang mualaf. Dia berpindah keyakinan dan masuk Islam pada September 2015. Tahun 2016, beasiswanya dihentikan. Dia dikeluarkan sebagai penerima BUD. Arnita dan keluarganya pun tak pernah mendapatkan peringatan sebelumnya. 

(republika.co.id)

Berita Terkait

Muslim

Terekam CCTV, Pelaku Curanmor 10 TKP Diringkus Polsek Senapelan

Muslim

Enam Jemaah Haji Riau Masih Jalani Perawatan di Batam

Muslim

Hj. Katerina Susanti Sambut Kunjungan Ketua Dekranas RI di Stand Dekranasda Inhil

Muslim

Wawako Markarius Anwar Lantik 42 Pejabat di Lingkup Pemko Pekanbaru

Muslim

Tak Hadir Ujian CAT, Dua Calon Anggota KPID Riau Gugur

Muslim

Disketapang Pekanbaru Monitoring Ketersediaan Pangan