Kisah Musaharati, Wanita Penabuh Tambur Sahur di Mesir

Harijal - Jumat, 09 Juni 2017 00:04 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/06/e333e3062017_00000kisahmusaharatiwani.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Foto: Xinhua)
Anak-anak mengelilingi Musaharati

KAIRO - Membangunkan sahur bukan monopoli kaum pria! Di Mesir seorang perempuan, sambil berjalan melalui gang di Kabupaten Maadi di Kairo dua jam setelah tengah malam, memukul tamburnya untuk membangunkan warga. 

Dalal Abdul Qader berkeliling guna membangunkan orang agar menikmati makan sahur. "Saya bukan hanya membangunkan orang untuk Sahur, tapi saya juga berusaha membawa kebahagiaan kepada anak-anak yang mengikuti saya selama perjalanan saya setiap malam," kata Dalal Abdul Qader, yang bekerja sebagai tukang membangunkan Sahur selama Ramadan atau dalam Bahasa Arab dinamakan Musaharati (Misaharaty). 

Ketika anak-anak kecil mendengar suara tambur perempuan itu, mereka segera keluar ke jalan dan mengelilingi dia dengan penuh kebahagiaan. Anak-anak tersebut terus mengikuti perempuan itu sampai ia menyelesaikan tugasnya. 

Selain tambur untuk dipukul, Dalal Abdul Qader juga melantunkan lagu agama tradisional yang mendesak orang agar bangun dan makan Sahur. Saat ia berjalan, lampu menyala dan orang mulai menyiapkan sahur, sementara anak-anak melongok dari jendela dan melambaikan tangan ke arah perempuan itu. 

"Saya merasa sangat dicintai ... orang di sini menghormati saya dan ini membuat saya merasa sangat bahagia," kata Dalal Abdul Qader saat ia melambaikan tangan ke seorang perempuan yang menyapa dia dari jendela tempat tinggalnya. 

Buat Dalal Abdul Qaser, pekerjaan sebagai Musaharati bukan hanya menjadi cara memperoleh nafkah, tapi itu juga menghidupkan tradisi lama yang menghidupkan cinta dan kebahagiaan di kalangan keluarga dan kerabat. "Melihat cinta ini mengelilingi saya sungguh tak ternilai," kata wanita tersebut sementara senyuman menghiasi wajahnya. 

Tradisi itu berawal dari Kekhalifihan Fatimiyah sembilan abad lalu, ketika Musaharati, atau orang yang membangunkan sahur, adalah satu-satunya cara membangunkan orang untuk sahur sebab saat itu tak ada jam beralarm atau pengeras suara di masjid. 

Perempuan muda tersebut mengatakan ia mulai membangunkan sahur dari pukul 23.00 sampai pukul 02.00 setiap hari. Ia menambahkan ia tak pernah merasa lelah atau bosan berkat cinta yang ia terima dari setiap orang yang ia temui. 

Perempuan yang berusia 20-an tahun itu bekerja di laundry di Ibu Kota Mesir, Kairo, sepanjang tahun, tapi ia bekerja sebagai Musaharati selama Ramadan untuk mengingatkan dia pada kakaknya, yang meninggal enam tahun lalu dan juga bekerja sebagai Musaharati. 

"Saya telah bekerja sebagai penabuh tambur Ramadan selama lima tahun ... saya benar-benar menintai apa yang saya kerjakan," tambah perempuan muda tersebut. 

Ia percaya rakyat tidak merasa aneh bahwa seorang perempuan melakukan pekerjaan cuma buat lelaki. Ia mengatakan perempuan di Mesir sekarang bisa bekerja di banyak bidang seperti montir mobil, pengemudi truk dan pekerja bangunan. 

"Ramadan tak memiliki rasa tanpa Musaharati," kata Eid Hussein (54). "Kebanyakan orang mungkin melek sampai saat sahur, yang lain memiliki teknologi baru untuk membangunkan mereka. Tapi tetap saja Musaharati menjadi daya tarik bulan suci. "Ia menyatakan setiap orang di lingkungan tersebut mencintai dan menghormati Dalal Abdul Qader sebab "ia membuat kami bahagia, karena ia mengingatkan kami pada warisan kami". 

Selain menghidupkan kembali tradisi lama, pekerjaan itu juga menjadi sumber penghasilan buat Dalal Abdul Qader, yang hidup di negara yang mengalami kondisi ekonomi yang sangat sulit. 

"Saya mendapat uang dari pekerjaan ini sebab orang memberi saya uang kontan pada akhir Ramadan untuk pekerjaan membangunkan orang yang saya lakukan ... Saya memberi sangat banyak dari apa yang saya perolah buat anak-anak yang memerlukan dalam upaya membuat mereka bahagia," kata Dalal Abdul Qader dengan riang. 

Saat waktu berpuasa makin dekat, perempuan muda tersebut mengakhiri pekerjaan membangunan orang dan mulai mengucapkan selamat berpisah dengan anak-anak yang mengikuti dia sepanjang perjalanannya.

(ful/okezone)

Berita Terkait

Muslim

Wako Agung Nugroho Minta ASN di Tiap RW Jadi Ujung Tombak Pendataan Warga

Muslim

Hari Kedua Pencarian, Warga Bandung yang Tenggelam di Sungai Kampar Belum Ditemukan

Muslim

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami Pagi Ini

Muslim

Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal

Muslim

Ini Kata Kadinkes Inhil Soal Pelaksanaan MBG dan Kepatuhan SPPG

Muslim

Lawan Narkoba, Polresta Pekanbaru Kembali Gempur Pangeran Hidayat, Pria Terciduk Bawa Sabu