Apa sih yang Dimaksud Din Syamsuddin Soal ‘Masjid Dhirar’ Itu?

Harijal - Sabtu, 15 April 2017 14:42 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/04/23f2c1042017_0000ilustrasiislamphobia_.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Foto : MgRol_92
Ilustrasi Islamphobia

Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo untuk meminta agar menunda peresmian Masjid KH Hasyim Asy’ari yang berada di bilangan Daan Mogot, Ketua Dewan Pertimbangan MUI/Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M Din Syamsuddin, sempat menyebut istilah ‘Masjid Dhirar’. Di dalam surat terbuka yang tersebar luas semenjak kemarin itu, ‘Din Syamsuddin’ mengartikan istilah ‘Masjid Dhirar’ sebagai masjid yang membahayakan.

Setelah dicari dalam litelatur, maka soal sebutan masjid seperti itu ada dalam banyak pembahasan para cendikiawan Muslim. Pakar Tafsir, Prof Dr HM Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Quran dan Hadits Shahih pun telah mengungkapkan. Dia menyatakan saat itu jumlah orang-orang munafik dengan berkembangnya ajaran Islam, pada waktu yang sama juga muncul semakin banyaknya orang munafik. (Tulisan ini pernah ditulis di Republika.co.id oleh almarhum Damanhuri Zuhri, Selasa , 09 February 2016, 07:20 WIB dengan judul: Ini Alasan Rasulullah SAW Musnahkan Masjid Dhirar).

Quraish menceritakan, sebelum Rasulullah SAW bertolak ke Tabuk, orang-orang Munafik membangun bangunan yang mereka namai masjid. Mereka membangunnya bukan demi karena Allah SWT tetapi untuk tujuan menyambut kehadiran seorang yang bernama Abu Amir ar-Rahib.

Abu Amir ar-Rahib adalah seorang yang sangat aktif dalam membakar semangat kaum Musyrik Makkah dalam pertempuran Uhud. Ia lalu memeluk agama Kristen dan berangkat menemui Kaisar Romawi yang juga pemeluk agama Kristen.

Kaisar Romawi menjanjikan dukungan kepada Abu Amir ar-Rahib untuk memimpin masyarakat Madinah. Komunikasi antara Abu Amir dengan teman-temannya di Madinah berlanjut, dan untuk itulah kaum Munafik mendirikan tempat berkumpul bagi para pendukungnya sambil menanti kedatangannya.

Ketika Bani Amir selesai membangun Masjid Quba di pinggiran Madinah, mereka mengundang Rasulullah SAW untuk shalat di sana dan Rasul memperkenankan permintaan mereka.

Bani Ghanim bin Auf, penggagas pembangunan masjid kaum munafik, mengundang juga Rasulullah SAW, tetapi ketika itu Rasul sedang bersiap-siap menuju Tabuk.

Sekembalinya dari Tabuk dan setelah selesainya pembangunan masjid Bani Ghanim itu, Rasulullah SAW bersiap-siap menuju ke sana untuk shalat, tetapi sebelum melangkah turun firman Allah surat AT-taubah (9) ayat 107 yang artinya, "Dan orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan terhadap orang-orang Mukmin secara khusus, dan masyarakat secara umum, dan untuk kekafiran dan tujuan pengingkaran kepada Allah SWT serta untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin..."

Begitu turun ayat ini, Rasulullah SAW membatalkan niatnya berkunjung ke masjid Bani Ghani bahkan memerintahkan beberapa orang untuk pergi menghancurkannya. Lokasi bangunan masjid ini dijadikan Rasulullah SAW sebagai tempat pembuangan bangkai dan najis. (ROL)

Berita Terkait

Muslim

Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal

Muslim

Ini Kata Kadinkes Inhil Soal Pelaksanaan MBG dan Kepatuhan SPPG

Muslim

Lawan Narkoba, Polresta Pekanbaru Kembali Gempur Pangeran Hidayat, Pria Terciduk Bawa Sabu

Muslim

Hitungan Jam, TRC BPBD Inhil Taklukkan Dua Titik Karhutla

Muslim

Pemprov Bakal Tanam 1.000 Pohon di Stadion Utama Pada Hari Jadi Riau ke-69

Muslim

Dugaan Korupsi Dana Program Digitalisasi Desa, Masyarakat Siap Buat Laporan Aduan