Kiblat Dipindah, Makin Terlihat Orang-Orang Musyrik dan Munafik

Harijal - Selasa, 11 April 2017 09:49 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/04/5e07c7042017_0000masjidqiblatain_14082.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Republika/Tommy Tamtomo/ca
Masjid Qiblatain.

JAKARTA - Orang-orang yang kurang akalnya (Sufaha’) di antara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (QS Albaqarah (2): 142).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memberi penjelasan mengenai ayat ini, "Yang dimaksud dengan sufaha ialah kaum musyrik Arab, para pendeta Yahudi, dan seluruh kaum munafik sebab ayat itu bersifat umum. Dahulu, Rasulullah SAW disuruh menghadap ke Baitul Maqdis. Di Makkah, beliau shalat di antara rukun Yamani dan rukun Syami sehingga Ka’bah berada di hadapannya, namun beliau menghadap ke Baitul Maqdis. Setelah beliau hijrah ke Madinah, semuanya keberatan untuk menyatukan keduanya. Maka, Allah menyuruhnya menghadap ke Baitul Maqdis. Pandangan itu dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan jumhur ulama.

Kemudian, mereka berselisih, apakah perintah itu melalui Alquran atau melalui yang lainnya? Para ulama terbagi atas dua pandangan. Ikrimah, Abu al-Aliyah, dan Hasan Bashri berpendapat bahwa menghadap Baitul Maqdis adalah hasil ijtihad Nabi SAW.

Maksudnya ialah menghadap ke Baitul Maqdis dilakukan setelah Nabi SAW tiba di Madinah. Hal itu berlangsung selama 10 bulan. Beliau banyak berdoa dan memohon kepada Allah agar disuruh menghadap ke Ka’bah yang merupakan kiblat Nabi Ibrahim AS. Maka, Allah SWT mengabulkan doanya dan memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menghadap ke Ka’bah. Maka, Nabi memberitahukan hal itu kepada Khalayak.

Shalat pertama yang menghadap Ka’bah adalah shalat Ashar. Hal ini dikemukakan dalam shahihain dari hadis al-Barra’ RA (137), "Sesungguhnya, shalat Rasulullah SAW menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 bulan atau 17 bulan. Beliau merasa heran bahwa kiblatnya adalah Baitul Maqdis sebelum Ka’bah. Shalat pertama menghadap Ka’bah adalah shalat Ashar. Beliau shalat bersama orang-orang."

Lalu, salah seorang jamaah keluar dari masjid dan menuju para penghuni masjid lainnya yang ternyata sedang ruku’. Dia berkata, "Aku bersaksi dengan nama Allah. Aku benar-benar telah mendirikan shalat bersama Nabi SAW sambil menghadap ke Makkah. Maka, orang-orang pun berputar menghadap ke Baitullah." Menurut Nasa’i, shalat itu ialah shalat Zuhur di masjid Bani Salamah.

Dalam hadis Nuwailah binti Muslim dikatakan (138), "Bahwa, sampai kepada mereka berita mengenai peralihan kiblat ketika mereka tengah shalat Zuhur. Nuwailah berkata, ‘Maka, jamaah laki-laki bertukar tempat dengan jamaah perempuan (untuk menyesuaikan posisi)’."

Namun, berita itu baru sampai kepada penduduk Kuba pada saat shalat fajar. Maka, datanglah seorang utusan kepada mereka. Dia berkata (139), "Sesungguhnya, pada malam ini telah diturunkan Alquran kepada Rasulullah SAW. Allah menyuruh untuk menghadap Ka’bah, maka menghadaplah kamu ke sana. Pada saat itu, wajah mereka menghadap ke Syiria. Maka, mereka pun berputar menghadap Ka’bah.

Tatkala ini terjadi, timbullah keraguan pada sebagian kaum Musyrik, munafik, dan ahli kitab. Bahkan, mereka melakukan penyimpangan dari petunjuk, membungkam dan meragukan kejadian tersebut.

Mereka berkata, "Apa yang telah memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu dipegangnya?" Yakni, apa yang telah membuat mereka kadang-kadang berkiblat ke Baitul Maqdis dan kadang-kadang berkiblat ke Ka’bah?

Maka, Allah menurunkan ayat, "Katakanlah, kepunyaan Allah-lah timur dan barat," yakni kepunyaan Allah-lah segala persoalan itu. "Maka, ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah."

Dan, "Kebaktian itu bukanlah dengan menghadapkan wajahmu ke timur atau ke barat, namun kebaktian itu dengan berimannya seseorang kepada Allah." Yakni, ke mana pun Allah mengarahkan kita, ke sanalah kita menghadap. Karena kesempurnaan ketaatan itu adalah dengan menjalankan berbagai perintah-Nya walaupun setiap hari Allah mengarahkan kita ke berbagai arah. Karena, kita adalah hamba-Nya dan berada di bawah pengaturan-Nya. Di antara perhatian-Nya yang besar terhadap umat Muhammad ialah Dia menunjukkan mereka ke kiblat al-Khalil Ibrahim.

Oleh karena itu, Allah berfirman, "Katakanlah, kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia menunjukkan orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (ROL)

Berita Terkait

Muslim

Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal

Muslim

Ini Kata Kadinkes Inhil Soal Pelaksanaan MBG dan Kepatuhan SPPG

Muslim

Lawan Narkoba, Polresta Pekanbaru Kembali Gempur Pangeran Hidayat, Pria Terciduk Bawa Sabu

Muslim

Hitungan Jam, TRC BPBD Inhil Taklukkan Dua Titik Karhutla

Muslim

Pemprov Bakal Tanam 1.000 Pohon di Stadion Utama Pada Hari Jadi Riau ke-69

Muslim

Dugaan Korupsi Dana Program Digitalisasi Desa, Masyarakat Siap Buat Laporan Aduan