Menyigi Islamofobia Simbolik

Redaksi - Rabu, 09 Juli 2025 10:19 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2025/07/_858_Menyigi-Islamofobia-Simbolik.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
RSUD Al Ihsan yang kini berganti nama menjadi RSUD Welas Asih.(Foto: Istimewa)
kabarmelayu.comOleh: Arvindo Noviar

DALAM peristiwa penggantian nama RSUD Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kita menyaksikan lebih dari sekadar perkara semantik. Ini bukan semata pengalihan dari diksi Arab ke diksi lokal. Ini adalah cermin dari cara kita memperlakukan sejarah, memperlakukan bahasa dan memperlakukan diri kita sendiri sebagai bangsa yang dibentuk dari perjumpaan berbagai kebudayaan, terutama peradaban Islam yang mengakar kuat dalam fondasi kemerdekaan Indonesia.

Dalam etnolinguistik, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah medan makna yang mengandung warisan kolektif, identitas, dan kosmologi suatu masyarakat. Ketika sebuah nama seperti Al Ihsan diganti dengan alasan agar terasa lebih dekat dengan budaya Sunda, kita perlu bertanya apakah nama Al Ihsan yang berarti kebaikan paripurna dalam Islam tidak lagi memiliki ruang dalam kebudayaan Sunda yang juga secara historis telah bersinggungan dan diperkaya oleh Islam sejak abad keempat belas.

Apakah yang disebut kearifan lokal harus disterilkan dari jejak Islam hanya karena bahasa Arab menjadi representasi dari keyakinan tertentu. Jika begitu, kita sedang melangkah mundur ke logika kolonial yang memisahkan adat dari iman, spiritualitas dari keseharian, dan bahasa dari kesadaran sejarahnya.

Menghapus jejak kata Al Ihsan dari institusi publik bukanlah tindakan yang bisa diremehkan. Ia adalah bentuk kekerasan simbolik terhadap sejarah dan ingatan kolektif. Nama itu tidak dipilih secara asal. Ia adalah penanda bahwa rumah sakit tersebut bukan sekadar institusi medis, melainkan bagian dari narasi etis. Tempat pelayanan dijalankan dengan prinsip ihsan, yakni melampaui kewajiban teknis dan menyentuh sisi spiritual kemanusiaan. Dalam kerangka etika Islam, ihsan berarti melihat dan merawat manusia seolah-olah sedang melihat Tuhan. Apakah nilai seperti itu tidak layak dijaga hanya karena menggunakan diksi Arab.

Indonesia bukan bangsa yang dibangun dari pemurnian budaya tunggal. Ia tumbuh dari simpul-simpul sejarah yang saling menyilang. Proklamasi kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Ia digerakkan oleh semangat kolektif yang melibatkan berbagai kalangan, termasuk pula oleh para ulama, santri, dan pemikir Muslim yang menjadikan Islam bukan sekadar keyakinan pribadi, tetapi kekuatan moral dan politik yang mengilhami perjuangan, menghimpun perlawanan, dan membebaskan rakyat dari belenggu kolonialisme.

Bahasa Arab hadir dalam pembentukan bangsa ini bukan sebagai penjajah makna, melainkan sebagai bagian dari cita-cita etis dan spiritual kolektif. Adil, musyawarah, rahmat, masyarakat, umat, hikmah, bahkan rakyat adalah kata-kata yang hidup dalam persilangan antara Islam dan Indonesia. Apakah kita hendak menertibkan semua itu hanya karena merasa tidak nyaman pada jejak akar.

Perilaku mengganti nama dengan dalih lokalisasi yang berlebihan menciptakan jarak palsu antara agama dan kebudayaan. Seolah-olah keduanya tidak bisa menyatu. Ini adalah logika modernisme semu yang justru menghancurkan jembatan kebangsaan yang telah lama dibangun oleh para pendahulu kita. Ini pula bentuk kejahatan sejarah. Ia mengaburkan kontribusi Islam dan umatnya dalam mendirikan republik ini, lalu menegaskan ulang dominasi negara atas ekspresi kultural rakyatnya.

Apakah kita begitu mudah tergelincir pada Islamofobia simbolik demi citra kebudayaan yang disebut inklusif. Padahal inklusivitas sejati lahir dari keberanian mengakui akar dan keberagaman, bukan dari penghapusan halus lewat pergantian nama.

Menjadi seorang yang fokus mencintai budayanya tidak pernah perlu sibuk membenci yang lain. Kita bisa mencintai Welas Asih tanpa mencabut Al Ihsan. Kita bisa bangga sebagai Sunda, Jawa, Aceh, Bugis, Minang dan sekaligus Muslim yang hidup bersama dalam rumah besar Indonesia. Inklusivitas bukan soal nama yang terdengar netral, melainkan soal ruang yang mampu menampung makna bersama secara jujur.

Sungguh ironis jika di tengah upaya membangun rumah sakit, justru makna sembuh dari luka sejarah disingkirkan. Al Ihsan bukan luka. Ia adalah bagian dari nadi yang mengalir dalam sejarah sosial rakyat Indonesia.

Mari kita jaga warisan bahasa dan sejarah bukan dengan sentimen, melainkan dengan kesadaran. Sebab mengganti nama mungkin mudah. Tetapi membangun kembali makna yang hilang adalah pekerjaan generasi panjang. Dan dalam sejarah bangsa, yang menyembuhkan bukan hanya obat. Ia juga membutuhkan kejujuran pada akar.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Muslim

RSUD Arifin Achmad Berhasil Tangani Kasus Menouria Langka, Pasien Kini Dapat Haid Normal

Muslim

RSUD Arifin Achmad Sukses Tangani Kasus Langka, Remaja Miliki Dua Rahim

Muslim

Ketua Komisi IV DPRD Inhil Apresiasi Upaya RSUD Tengku Sulung dan RSUD Raja Musa Perkuat Layanan Spesialis

Muslim

Tidak Jadi Lokus Program PGDS Kemenkes, RSUD Tengku Sulung Kolaborasi dengan Dua Universitas

Muslim

RSUD Arifin Achmad Angkat Paku 5 Cm dari Paru-paru Pasien Asal Tembilahan Tanpa Operasi

Muslim

SF Hariyanto Lantik Sekwan Riau dan Dirut RSUD Arifin Achmad