Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi

Redaksi - Sabtu, 31 Agustus 2024 00:35 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2024/08/_6207_Problem-Islamophobia--Latar-Belakang-Sejarah-dan-Solusi.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Diskusi yang diadakan Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) bekerja sama dengan Yayasan Persada Hati dan Maha Indonesia dengan tema “Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi Mengatasinya”.(Foto: Ist)
KETIDAKSUKAAN atau prasangka terhadap Islam atau Muslim, khususnya sebagai kekuatan politik, Kemudian ketakutan yang tidak rasional, permusuhan, atau prasangka terhadap Islam atau Muslim. Sentimen seperti itu terkadang diungkapkan melalui stereotip yang menggambarkan Muslim sebagai ancaman geopolitik atau sumber terorisme.

Hal ini disampaikan oleh Dian Wirengjurit, Mantan Duta Besar RI untuk Iran dan Analis Geopolitik dan Hubungan internasional dalam diskusi yang diadakan oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) bekerja sama dengan Yayasan Persada Hati dan Maha Indonesia dengan tema "Problem Islamophobia: Latar Belakang Sejarah dan Solusi Mengatasinya" di Ambhara Hotel, Rabu (28/8/2024).

Dian mengutip Muis dan Immerzeel, bahwa sayap kanan radikal telah difokuskan pada partai politik, pemilihan umum dan perilaku elektoral dengan sedikit perhatian pada lingkungan non-partisan dan fenomena budaya yang mengelilingi keberhasilan partai radikal.

Ketua PIEC, Pipip A. Rifai Hasan memaparkan bahwa Islamofobia merupakan ketakutan yang tidak rasional, kebencian atau diskriminasi terhadap Islam atau orang-orang yang mempraktikkan Islam.

"Islamofobia ini mulai kembali meningkat di Eropa dan AS. Sentimen mengenai ini telah masuk dalam kebijakan mantan presiden AS Donald Trump dan mantan Kanselir Austria Sebastian Kurz," tutur Pipip.

Peningkatan islamophobia akhir-akhir ini sejalan dengan lonjakan pengungsi yang datang dari berbagai negara Arab. Terutama Palestina, Suriah, Irak, Libya dan berbagai negara Afrika yang mencari perlindungan dari konflik bersenjata.

Pipip melihat ada informasi palsu yang dengan cepat menyebar menyatakan bahwa pelakunya adalah seorang imigran muslim, sehingga menimbulkan kemarahan bagi kelompok ekstrem kanan.

"Namun, islamophobia tidak akan menyelesaikan masalah, muslim dan non-muslim perlu mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak yang berkonflik dengan tujuan untuk menciptakan kehidupan yang menjamin keadilan dan kerukunan bersama" harapnya.

Islamofobia hanya mungkin dihilangkan atau dikurangi jika terjadi dialog dan kerja sama antar berbagai agama dan peradaban dunia. Di mana muslim dan non-muslim harus saling memahami, menghargai dan bekerja sama untuk menciptakan perdamaian dunia dan membangun masa depan yang lebih baik.

"Hal ini sangat penting bagi umat beragama dan berbangsa untuk menanamkan sikap rendah hati dan tidak menganggap agama serta peradabannya lebih unggul dari yang lain. Dengan demikian, dunia akan menjadi tempat yang lebih toleran dan damai bagi seluruh masyarakat di dunia" pungkas Pipip.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Muslim

Indonesia Menuju Jurang?

Muslim

Cahaya Islam di India, Jejak Peradaban Islam di Negeri Bollywood

Muslim

Sulis "Cinta Rasul" Meriahkan Paramadina Festival Ramadhan 2026 di Meikarta

Muslim

Cahaya Islam di Jerman: Upaya Pengakuan Identitas Islam di Jantung Eropa

Muslim

Universitas Paramadina dan KAS Gelar Pelatihan Kepemimpinan untuk Guru Perempuan se-Kota Malang

Muslim

Paramadina dan Mitra Gelar Neo Gen Footwear Design Competition 2026