Takhayul Zaman Nabi, Kisah Firaun Menyihir Tali Menjadi Ular

Harijal - Kamis, 04 Februari 2021 19:23 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2021/02/3a0a28022021_untitled9.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Al-Qur`an di dalam Surat Yunus : 92 menjelaskan utuhnya jasad Firaun. (Foto:Nature)

Takhayul, kata ini disebutkan dalam Al-Quran, ketika Allah Ta`ala menceritakan sihir yang dilakukan tukang sihirnya Firaun. Dalam Al-Qur`an Surat Thaha: 66, Allah Ta`ala tegas menjelaskan hal ini.

Allah Ta`ala berfirman:

“Berkata Nabi Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha: 66)

Ustaz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa, tukang sihir Firaun menyihir setiap mata para penontonnya. Sehingga seolah mata mereka melihat tali dan tongkat mereka menjadi ular. Termasuk Musa ‘alaihis salam, terbayang dalam diri beliau, tali dan tongkat mereka menjadi ular.

Baca Juga: Jasad Firaun Tetap Utuh, Penjelasan Al-Qur'an dan Temuan Sains Ternyata Sinkron

Dalam kamus Mu’jam al-Wasith, makna kata Takhayul adalah:  

تَصَوَّرَهُ ، تَمَثَّلَه yang artinya membayangkan. Karena orang sombong yang kagum dengan dirinya disebut Mukhtal atau Dzul Khuyala’. Karena dia membayangkan dirinya hebat, seolah tidak ada yang menandinginya. (Lisan al-‘Arab, 11/226)

Dalam kamus KBBI, takhayul diartikan sebagai (sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka atau kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, padahal sebenarnya tidak ada atau tidak sakti.

Baca Juga: Ada 8 Pintu Rezeki Umat Muslim, Nomor 4 Tak Disangka-sangka

Dikutip dari laman konsultasisyariah pada Kamis (4/2/2021) disebutkan mengapa takhayul dan khurafat digandengkan?

Dua kata ini digandengkan, karena semua keterangan dusta, berawal hanya dari khayalan manusia. Khayalan tanpa bukti. Tidak sesuai kenyataan, dan tidak didukung oleh dalil. Ketika itu diyakini, statusnya menjadi khurafat. Keyakinan dusta yang menyimpang.

Lalu apakah semua takhayul dan khurafat itu terlarang?

Khurafat dan takhayul terkait syariat, semuanya terlarang. Karena berdusta atas nama syariat. Terlebih jika khurafat itu terkait keyakinan tentang Allah. Bahayanya lebih parah dan ancaman dosanya sangat besar.

Dalam al-Quran, Allah banyak memberikan ancaman untuk orang yang memiliki keyakinan dusta tentang Allah, diantaranya,

Allah berfirman:

"Barang siapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim." (QS. an-Nisa: 94).

Ayat ini bercerita tentang sikap sebagian bani Israil yang mereka menetapkan hukum halal haram di masa sebelum turunnya taurat. Pernyataan mereka tanpa bukti, Allah sebut sebagai dusta atas nama Allah.

Allah juga berfirman:

"Lihatlah bagaimana mereka berbuat dusta atas nama Allah. dan cukuplah itu sebagai perbuatan dosa yang nyata." (QS. an-Nisa: 50).

Allah juga berfirman:

"Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang berdusta atas nama Allah, dia tidak akan beruntung." (QS. Yunus: 69).

Ayat ini berisi ancaman Allah untuk orang yang menyatakan Allah punya anak, padahal Allah tidak butuh seluruh makhluk. Dia Maha Kaya.

Allah juga berfirman:

"Siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang berdusta atas nama Allah, padahal dia telah didakwahi untuk masuk Islam." (QS. as-Shaf: 7)

Padahal dia telah didakwahi untuk masuk Islam, artinya dia telah mengenal kebenaran. Allah sebut perbuatannya sebagai pebuatan yang paling dzalim. Mereka menyebut Allah memiliki sekutu.

Termasuk bentuk khurafat adalah menggalang amalan ibadah yang sama sekali tidak pernah Allah syariatkan. Allah berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. as-Syu’ara’: 21).

(sumber: okezone.com)

Berita Terkait

Muslim

Terekam CCTV, Pelaku Curanmor 10 TKP Diringkus Polsek Senapelan

Muslim

Enam Jemaah Haji Riau Masih Jalani Perawatan di Batam

Muslim

Hj. Katerina Susanti Sambut Kunjungan Ketua Dekranas RI di Stand Dekranasda Inhil

Muslim

Wawako Markarius Anwar Lantik 42 Pejabat di Lingkup Pemko Pekanbaru

Muslim

Tak Hadir Ujian CAT, Dua Calon Anggota KPID Riau Gugur

Muslim

Disketapang Pekanbaru Monitoring Ketersediaan Pangan