Fakta Memukau Mengenai Bulan dalam Peradaban Muslim

Harijal - Kamis, 03 November 2016 18:25 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2016/11/51ee49112016_faktamemukau.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Foto: Shutterstock)

JAKARTA, kabarmelayu.com - Dalam peradaban Muslim, para astronom selalu tertarik dengan berbagai fase bulan. Para ahli astronomi pada awal masa peradaban Muslim menghitung kapan tepatnya bulan sabit (hilal) akan muncul. Informasi tentang hilal ini penting bagi penganut agama Islam.

Kemunculan hilal menandai mulainya Ramadan dan bulan-bulan lainnya dalam kalender Islam. Al-Kindi, ilmuwan Irak abad Ke-9 mengembangkan jenis trigonometri untuk bentuk bola, bukan hanya permukaan datar.

Masyarakat membutuhkan trigonometri dalam bentuk bola untuk menemukan arah ke Mekkah, kiblat umat Islam.

Seorang ahli astronomi bernama Muhammad Abul-Wafa Buzjani menemukan bahwa Bulan bergerak di orbitnya dengan kecepatan berbeda-beda dalam setiap fase. Ahli astronomi Denmark Tycho Brhae sering dianggap sebagai penemu fenomena perbedaan kecepatan Bulan, namun penemuannya terjadi 600 tahun setelah Buzjani.

Satu kawah di Bulan dinamakan Abul-Wafa untuk menghormati Abul-Wafa Buzjani. Kini kalender Islam memiliki 12 bulan yang dimulai berdasarkan peredaran Bulan, seperti dirangkum “1001 Penemuan dan Fakta Mempesona Peradaban Muslim,” Kamis (3/11/2016).

Sementara pada 634 M, khalifah kedua Umar bin Khattab menetapkan sistem kalender Hijriyah berdasarkan siklus bulan, yang hingga kini masih digunakan.

Kalender Hijriyah, atau Kalender Islam, hanya terdiri atas 354 atau 355 hari, 11 hari lebih pendek daripada kalender yang didasarkan perputaran Bumi mengelilingi Matahari.

Ibnuul-Haitsam, mempelajari berbagai posisi Bulan di langit dan menemukan bahwa penampakan Bulan yang terlihat lebih besar di dekat cakrawala adalah ilusi optik. Ukuran Bulan yang sebenarnya tidak berubah.

Di permukaan Bulan ada 650 lebih petak gelap dan terang, yang berupa kawah dan formasi lainnya. Tiga belas di antaranya menyandang nama para ahli astronomi Muslim.

Bentuk permukaan Bulan menjadi salah satu penyebab fenomena “bayangan manusia di Bulan” yang kita lihat dari Bumi. Bulan dikenal sengan berbagai nama seperti “Luna” bagi bangsa Romawi, “Selana” oleh bagi bangsa Yunani, dan “Al-Qamar” bagi bangsa Arab.

 

(kem/okezone/rec)

Berita Terkait

Muslim

Dukung Swasembada Pangan, Bhabinkamtibmas Polsek Teluk Meranti Pantau Lahan Pertanian Warga

Muslim

Taekwondo Indonesia Loloskan 3 Atlet ke Asian Games Nagoya 2026, Siap Tantang Raksasa Asia

Muslim

Bupati Herman Hadiri Tablig Akbar Bersempena Rangkaian Milad Kabupaten Inhil Ke-61

Muslim

Wako Pekanbaru Raih Penghargaan Pendorong Pertumuhan Ekonomi Kota dari Disway Group

Muslim

Agung Nugroho Tegaskan Komitmen Perangi Narkoba!

Muslim

Pemko Antisipasi Kecurangan dalam Pelaksanaan SPMB di Pekanbaru