Pesona Masjid Tuo Kayu Jao, Perpaduan Gaya Arsitektur Islam dan Budaya Minang

Harijal - Rabu, 29 April 2020 15:16 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/04/5a05d7042020_untitled26.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
foto: Okezone

DI KABUPATEN Solok, tepatnya di Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Sumatera Barat terdapat masjid tua yang menjadi salah satu bukti penyebaran Islam di Tanah Minang. Masjid Tuo Kayu Jao namanya.

Bangunan masjid ini sangat unik, betapa tidak atapnya terbuat dari ijuk warna hitam dengan dinding dan lantai dari papan dibalut dengan warna hitam yang menambah kesakralan. Disebutkan, Masjid Tuo Kayu Jao ini dibangun pada 1599, namun penjelasan dari penjaga sekaligus keturunan pendiri Masjid Tua Kayu Jao mengklaim dibangun pada 1419. Pembangunan masjid ini dilakukan para warga secara gotong royong, masjid ini digagas oleh angku imam yang bernama musaur dan angku labai sekaligus sebagai bilal.

Dari segi arsitektur, masjid ini juga mengalami asimilasi terhadap Budaya Minangkabau, yakni rumah gadang. Atap masjid yang terbuat dari ijuk terdiri dari tiga tingkat. Antara tingkatan terdapat celah yang dibuat untuk pencahayaan. Arsitektur lokal berupa “rumah gadang” terlihat di bagian mihrab, yang memiliki atap dengan bentuk berbeda, yakni berbentuk gonjong.

Aguswal Riyanto, salah satu keturunan dari pendiri masjid tersebut mengatakan, atap masjid ini disangga 27 tiang yang merupakan simbolisasi dari enam suku di sekitar masjid. Masing–masing terdiri atas empat unsur pemerintahan ditambah tiga unsur dari agama, yakni khatib, imam, dan bilal.

“Masing-masing tiang berukuran lingkar 25 cm hingga 30 cm,tiang masjid hanya diletakkan di atas batu sandi sebagai pondasi. Tiang-tiang terbuat dari kayu kelas satu, dengan jenis yang belum diketahui,” ujarnya seperti dilansir iNews, Rabu (29/4/2020).

Simbolisasi juga terdapat di jendela dengan jumlahnya yang ganjil sebanyak 13 buah, yang mengandung makna 13 rukun sholat. Suasana dalam masjid meski agak usang karena material bangunan yang sudah tua, tetapi tetap terasa sejuk, walaupun tanpa pendingin udara.

Selain itu, ada taman yang ditanami bunga-bunga indah di sekitar masjid, membuat sedap mata memandang, memotret dan berlama-lama di kawasan masjid.

“Salah satu benda yang menjadi ikon di masjid ini adalah beduk atau tabuah dalam bahasa minang,bedug yang terletak di sebelah masjid, diperkirakan usianya juga sama dengan masjid tersebut,”tutupnya.

(okezone.com)

Berita Terkait

Muslim

Pimpinan Lapas Narkotika Rumbai Ikuti Pengarahan Dirjenpas Secara Daring

Muslim

Hotspot Riau Bertambah Lagi, Langit Pekanbaru Kembali Diselimuti Asap

Muslim

T. Azwendi: Media Bukan Sekadar Mitra

Muslim

Kolaborasi SEF dengan Kulukis Art, Gelar Pelatihan Desain Kreatif

Muslim

Jangan Sebar Data Pribadi Sembarangan!

Muslim

Polres Dumai Ungkap Peredaran 1.365 Pil Ekstasi