BENGKALIS, kabarmelayu.com - Diawali dengan memasang tanjak dan selendang adalah bentuk penghormatan dalam adat istiadat melayu dan tepuk tepung tawar adalah adat di negeri melayu sebagai simbol hormat terhadap tamu dan permohonan keselamatan diiringi dengan kompang yang menyemarakkan kunjungan kerja UNDP Indonesia dan Norway Embassy Kunker ke Bukit Batu, Rabu (24/8).
Hadir dalam kunker tersebut Mr Cristopher Bahuet (Country Director UNDP Indonesia) dan Nita Murjani (Norway Embassy/penasehat bidang kehutanan dan perubahan iklim kedutaan besar Norwegia) Roy Rahendra (project Manager Redd Indonesia), Camat Bukit Batu M Fadlul Wajdi, Lurah Sungai Pakning Acil Esyno, Manager RU II Sungai Pakning Pramono Avianto, sejumlah Kepala Desa, MPA sekecamatan Bukit Batu dan tamu undangan lainnya di RW O6 kampung jawa kelurahan Sungai Pakning Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis.
Lurah Sungai Pakning dalam sambutannya mengatakan, 1993 terjadi banjir, 2010 masuk PT SDA dengan luas 6.800 ha, mulai terjadi 2012-2015 lahan warga terbakar akibat kekeringan, pemadaman hingga malam hari, kebakaran 2015 mencapai 30-40 Hektar.
"Masuknya pembuatan sekat kanal, embung dan lainnya masyarakat kampung jawa rela mengorbankan tanamannya dengan tanpa ganti rugi, Membuat sekat kanal dengan permanen dan tidak permanen," kata Acil sembari mengapresiasi warganya.
Camat Bukit Batu mengatakan dalam pencegahan Karlahut Komunikasi, kordinasi yang sangat diperlukan, yang mana Kecamatan Bukit Batu setiap tahunnya mengalami penurunan terhadap karlahut.
"Alhamdullilah menurun setiap tahunnya, yang mana pada tahun 2013 mencapai 4000 ha, 2015 1000 ha, 2016 per Agustus 100 ha, hal ini tercapai dikarenakan masyarakat yang hari ini sangat peduli terhadap karlahut," ujar Fadlul
Sementara itu Mr Christophe mengutarakan pertama kali ke Provinsi Riau, pada tahun lalu akan tetapi terkendala oleh kabut sehingga pesawat tidak bisa mendarat.
"Program UNDP di kampung Jawa ini telah berhasil yang mana masyarakat kampung jawa juga sangat peduli dengan hutan dan lingkungan, saya senang sekali dapat hadir di jawa kampung," kata Cristophe yang membuat masyakat ketawa dengan membalikkan kata kampung Jawa menjadi Jawa Kampung.
Mewakili Kedutaan Besar Norwegia Nita Murjani, keberhasilan terhadap pencegahan karlahut ini tidak cukup dari pemerintah, namun dari pihak swasta juga aparat penegak hukum harus ikut peran aktif terhadap karlahut ini.
"Itu semua kunci keberhasilan, bapak itu semua akan merasa hasilnya setelah tidak ada lagi karlahut yang terjadi, tentunya akan meningkatkan perekonomian masyakat setempat, dan saya mewakili pemerintah Norwegia sangat senang sekali atas kepedulian masyarakat terhadap karlahut," tutur Nita. (der)