kabarmelayu.com,PEKANBARU - Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) menemukan masih adanya hotspot (titik panas) di dalam areal perkebunan milik perusahaan perkebunan. Yakni 2 titik di areal PT. Alam Sari Lestari dan 1 titik di areal PT. Palma Satu.
Koordinator ajikalahari, Okto Yugo Setyo menegaskan, keberadaan hotspot di dalam kawasan perkebunan sawit perusahaan ini perlu menjadi perhatian.
"Pemegang izin memiliki tanggung jawab dalam memastikan kawasan yang dikelolanya bebas dari aktivitas yang dapat memicu kebakaran," ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga wajib melakukan pencegahan dan penanganan secara cepat ketika hotspot terdeteksi.
Untuk itu, Jikalahari mendorong pemerintah menelusuri penyebab munculnya hotspot di areal perusahaan. Pemerintah juga didesak memastikan pengawasan terhadap korporasi berjalan secara transparan dan serius,
"Sehingga kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang di Riau," kata Okto Yugo.
Selama sepekan belakangan, 21-27 September 2026, Jikalahari mencatat hotspot tersebar di enam kabupaten dan kota, yakni Indragiri Hulu, Dumai, Pelalawan, Indragiri Hilir, Rokan Hilir dan Kabupaten Siak.
Sebanyak 23 persen hotspot berada di kawasan gambut dengan kedalaman antara 0,5 hingga 4 meter. Sementara 10 titik lainnya berada di kawasan mineral.
Sebagai tambahan, hari ini, Rabu (30/9/2025) pukul 13.00 WIB kualitas udara di Pekanbaru berada di kategori tidak sehat. Konsentrasi Particulat Matter (PM 2,5) tercatat 66,4 ųg/m³.