kabarmelayu.comPEKANBARU - Deputi Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (
BMKG), Dr. Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, pada Mei dasarian III, sebanyak 26 persen wilayah Riau sudah memasuki musim kemarau. Hal ini menempatkan Riau sebagai wilayah dengan risiko karhutla tinggi bersama Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
"Pada Juni 2025, risiko karhutla meningkat tajam, terutama di Riau dan Sumatera Utara. Sebanyak 33,8 persen wilayah Riau masuk kategori risiko tinggi, dan 35 persen lainnya kategori menengah," kata Ardhasena.
BMKG juga memperingatkan bahwa puncak kemarau di Juli, potensi perluasan wilayah karhutla semakin besar. Provinsi lain yang turut berisiko tinggi antara lain Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Untuk itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan serta melakukan mitigasi sejak dini demi mencegah kerugian besar dari segi lingkungan dan kesehatan.
Dengan kolaborasi aktif seluruh pihak, Jambore Karhutla 2025 diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan lingkungan menghadapi ancaman karhutla di masa mendatang.