PKPRM Mangrove di Riau Serap 5.362 Orang Tenaga Kerja

Harijal - Jumat, 03 Desember 2021 16:09 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2021/12/b92013122021_pkprmmangrovediriauserap5362.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
ilustrasi

PEKANBARU - Kawasan pesisir di Provinsi Riau menjadi salah satu lokasi utama rehabilitasi mangrove Nasional. Melalui pelaksanaan Padat Karya Percepatan Rehabilitasi Mangrove (PKPRM) tahun 2021 mangrove tersebar di tujuh Kabupaten/Kota di Riau yaitu Siak, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir dan Pelalawan.

''Adapun luasan penanaman PKPRM 2021 di Riau seluas 6.320 hektar. Seluruh pelaksanaannya dikerjakan masyarakat, bekerjasama dengan BRGM, KLHK dan KPH,'' ungkap Kepala BPDAS Indragiri Rokan Irpana Nur, Jumat (3/12/2021).

Program ini memberikan multi manfaat, selain bagian dari upaya penyelamatan abrasi di kawasan pesisir, juga memberi manfaat ekonomi. Karena setiap pembayaran diberikan langsung ke rekening masing-masing anggota yang bekerja.

''Kegiatan ini melibatkan 271.969 Hari Orang kerja atau HOK. Ada 168 kelompok masyarakat dan jumlah tenaga kerja yang terserap berdasarkan total jumlah anggota kelompok penerima padat karya mencapai 5.362 orang,'' ungkap Irpana.

Dengan target luasan yang diberikan, bibit tertanam melalui PKPRM mangrove pada kawasan pesisir se Riau mencapai 19.830.600 batang bibit. Ini menjadi jumlah terbanyak yang pernah dikerjakan bersama-sama dengan pelibatan aktif masyarakat.

Tentu saja ditemui banyak tantangan dilapangan seperti pasang surut air laut, sehingga membuat kelompok masyarakat harus menanam di subuh hari atau menjelang magrib di saat air laut surut. Selain itu juga ada tantangan dari faktor alam ataupun jenis satwa pemakan bibit/propagule yang membuat bibit rusak. Untuk itu antar kelompok masyarakat didorong untuk saling transfer pengetahuan, sehingga program ini ke depannya bisa berjalan dengan lebih baik lagi.

''Kelompok masyarakat selalu dibantu pendamping desa dalam hal persiapan dokumen administrasi. Selain itu pendamping desa dan kordinator lapangan membantu kelompok masyarakat agar pelaksaan padat karya berjalan dengan baik dan sesuai target,'' tutup Irpana.

Secara nasional pemerintah menargetkan rehabilitasi mangrove dapat mencapai 630.000 hektare di sembilan provinsi prioritas hingga tahun 2024 mendatang. Rehabilitasi mangrove dilakukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beserta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Adapun data eksisting mangrove di Indonesia saat ini seluas 3,36 juta ha. Rehabilitasi ekosistem mangrove secara besar-besaran sejak 2019 telah menjadi salah satu bentuk keseriusan komitmen pemerintah dalam hal pengendalian perubahan iklim. (MCR)

Berita Terkait

Lingkungan

Empat Kecamatan Dukung Munawar Rosidi Sebagai Panglima Tameng Adat LAMR Bengkalis

Lingkungan

Sesosok Mayat Pria Ditemukan Warga Tergeletak di Tepi Sungai Indragiri

Lingkungan

Karhutla Parah di Selatan Sumatera, Angin Bawa Asap ke Riau

Lingkungan

Pemprov Riau Minta BPH Migas Tambah Kuota

Lingkungan

Waduh! Hotspot Sumatera Kembali Tembus Angka 3.500-an

Lingkungan

UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota Sabet Gelar Juara di Ajang FLS3N 2026 Tingkat Kabupaten Kampar