Lebah Raksasa Pembunuh Asli Asia `Hijrah` ke Amerika Serikat

Harijal - Senin, 04 Mei 2020 20:11 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/05/5ed404052020_untitled5.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Istockphoto/macroart)
Ilustrasi lebah raksasa.

JAKARTA - Para peneliti dari Washington State University (WSU) menemukan lebah raksasa yang berasal dari Benua Asia di negara bagian Washington, Amerika Serikat (AS).

Lebah ini memiliki tubuh berukuran lebih dari dua inci dari lebah biasa dan langsung disematkan sebagai lebah terbesar di dunia. Tak hanya itu, lebah raksasa itu juga punya sengatan yang dapat membunuh manusia.

Lebah jenis hornet ini juga diberi julukan `lebah pembunuh` dan memiliki warna tubuh hitam-keemasan dengan nama latin Vespa Mandarinia.

Sebab, sejumlah peternak lebah di Washington melaporkan bahwa hewan ternak mereka itu mati akibat serangan yang dilancarkan hornet.

"Mereka menyerang sarang lebah madu, membunuh lebah dewasa, dan melahap larva serta kepompong demi mempertahankan koloni mereka," kata Peneliti Ilmu Pertanian dan Sumber Daya (WSU), Seth Truscott dari laman resmi universitas dikutip CNN.

"Sengatan mereka besar dan menyakitkan karena mengandung neurotoksin yang kuat. Lalu sengatan juga dapat membunuh manusia," lanjut dia.

Sengatan yang mengandung neurotoksin ini bisa langsung menyerang syaraf jika masuk ke tubuh manusia.

Lebih lanjut Truscott mengatakan hornet mulai menginvasi ke AS bulan Desember 2019. Saat itu `ratu` lebah terbangun dari hibernasi panjang untuk membangun sarang dan membentuk koloni.

"Serangan hornet terjadi pada akhir musim panas dan awal musim gugur. Saat itu, mereka tengah mencari sumber protein untuk meningkatkan imunitas ratu lebah," tutur Truscott.

Para peneliti WSU pun menyarankan kepada para peternak lebah di Washington untuk menyiapkan baju khusus. Sebab, sengatan hornet bisa menembus baju pelindung yang biasa digunakan.

Truscott memprediksi, pihaknya dapat 'memanen' hornet Vespa Mandarinia pada bulan Juli-Oktober ketika koloni mereka sedang giat-giatnya mencari makan.

"Waktu yang paling mungkin untuk menangkap lebah raksasa Asia adalah mulai bulan Juli sampai Oktober, ketika koloni didirikan dan para pekerja sedang mencari makan," pungkasnya.

Beberapa peneliti di Amerika Serikat kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat harus mengantisipasi keberadaan lebah pembunuh tersebut disamping melawan pandemi virus corona yang juga mengancam nyawa. 

(CNNIndonesia.com)

Berita Terkait

Lingkungan

HUT Polwan Ke-78, Police Woman Goes To School Kunjungi UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota

Lingkungan

Pelaku Industri Didorong Bantu UMKM dan Kembangkan Industri Halal

Lingkungan

Pemko Pekanbaru Tingkatkan Status Siaga Karhutla Jadi Tanggap Darurat

Lingkungan

Pokja Newsrom Jaga Desa SMSI, Manifestasi Kukuhkan NKRI

Lingkungan

Karhutla Kerumutan Pelalawan Capai 969 Hektare, Tim Gabungan Terus Berjibaku

Lingkungan

Kabut Asap Mengkhawatirkan, Manfaatkan SIGNAL untuk Bayar Pajak Kendaraan