Sajian Kopi dan Gaya Hidup di Dunia Islam dan Eropa

Harijal - Minggu, 02 April 2017 14:49 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/04/6772e9042017_0000kopi_151031213648696.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
ist.

JAKARTA - Penulis sejarah Usmaniyah, Ibrahim Peçevi, menulis tentang kedai-kedai kopi pada abad ke-17. "Kedai ini menjadi tempat pertemuan lingkaran pencari kesenangan dan pemalas, tapi juga kaum cerdik pandai dan sastrawan, dan mereka berkelompok sekitar 20 atau 30 orang. Beberapa membaca buku, ada yang sibuk dengan bermain catur; beberapa membawa puisi baru dan berbicara tentang sastra."

Namun perkembangan selanjutnya, tak ada lagi alasan menutup kedai kopi seperti halnya melarang peredaran tembakau; kopi menjadi komoditas yang diperhitungkan di pasar dunia, dan kedai kopi memberi masukan pajak yang tak sedikit. 

Kopi mulai dikenal di benua Eropa pada abad ke-16, atau 150 tahun setelah kedai-kedai kopi menjamur di seluruh jazirah Arab dan wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintahan Islam. Kedai Kopi menjadi tempat tidak hanya untuk menikmati secangkir tetapi untuk bertukar pikiran, termasuk mengenai ekonomi dan bisnis.

Perusahaan asuransi Lloyd of London didirikan ratusan tahun yang lalu di salah satu dari 2.000 kedai London di London. Sastra, surat kabar, dan bahkan karya-karya komponis besar seperti Bach dan Beethoven juga pertama lahir di kedai-kedai kopi.

Di Amerika Serikat, kopi dikembangkan setelahnya. Setelah serangan atas kapal Inggris yang mengangkut teh pada 1773 dan melemparkan peti-peti teh ke laut, orang AS beralih menjadi peminum kopi. Sejarawa Mark Pendergrast, penulis Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World mengatakan bahwa salah seorang pendiri bangsa, John Adams,  menulis surat kepada istrinya, Abigail, menyatakan cintanya pada teh tetapi ia harus belajar untuk minum kopi. "Karena minum teh telah menjadi tidak patriotik," katanya.

Ia menyebut kedai kopi menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah banyak bangsa, diakui atau tidak. "Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika direncanakan di kedai-kedai kopi," kata Pendergrast.

Hal ini diakui profesor pemasaran Merlyn Griffiths yang lama meneliti tentang kedai-kedai kopi modern. Tempat mengopi ini, katanya, memiliki tradisi panjang dalam masyarakat sebagai tempat di mana orang bisa bertemu dan mendiskusikan ide-ide. Pendek kata, kedai kopi menjadi semacam facebook di masa lalu. "Berbagai topik bahasan lahir di sini sepanjang waktu, selama berabad-abad," katanya. Bahkan, hingga saat ini.(ROL)

Berita Terkait

Kuliner

Mengurai Gurita Pemerasan WNA dan Urgensi Penegakan Hukum Radikal

Kuliner

Ini Kata Kadinkes Inhil Soal Pelaksanaan MBG dan Kepatuhan SPPG

Kuliner

Lawan Narkoba, Polresta Pekanbaru Kembali Gempur Pangeran Hidayat, Pria Terciduk Bawa Sabu

Kuliner

Hitungan Jam, TRC BPBD Inhil Taklukkan Dua Titik Karhutla

Kuliner

Pemprov Bakal Tanam 1.000 Pohon di Stadion Utama Pada Hari Jadi Riau ke-69

Kuliner

Dugaan Korupsi Dana Program Digitalisasi Desa, Masyarakat Siap Buat Laporan Aduan