Miris! Indonesia Memiliki Angka Stunting Terbesar ke-5 di Dunia

Harijal - Rabu, 24 Januari 2018 20:18 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2018/01/f276a7012018_0000aamirisindonesiamemil.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Ilustrasi (Foto: Pexels)

MENDENGAR atau membaca kata stunting, pastinya ada beberapa dari Anda yang masih merasa asing. Padahal, stunting berada di sekitar kita.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh secara normal pada anak balita akibat kekurangan gizi yang kronis, sehingga anak tumbuh terlalu pendek. Pertumbuhan yang tidak wajar ini disebabkan tidak terpenuhinya gizi seimbang pada anak balita ketika masih dalam kandungan dan sejak dilahirkan.

World Health Organisation (WHO) menetapkan batas toleransi stunting (anak bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah seluruh balita. Namun, faktanya yang ada di Indonesia, keadaan stunting pada balita berada pada angka 35,6 persen, yang artinya sudah melebihi batas toleransi WHO.

Masih dari data WHO, telah tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita mengalami stunting. Sementara, dari 35,6 persen pengidap stunting di Indonesia tersebut, sebanyak 18,5 persen balita masuk dalam kategori sangat pendek dan 17,1 persen masuk ke kategori pendek. Dengan adanya angka-angka yang diungkapkan WHO itu juga akhirnya membuat Indonesia tergolong dalam negara yang status gizinya buruk.

Lebih lanjut, dari banyaknya daerah yang berada di kawasan Indonesia, Provinsi Sulawesi Tengah menjadi daerah yang mengalami stunting tertinggi, sekira 16,9 persen. Selain itu, ada pula Provinsi Sumatera Utara yang hanya 7,2 persen saja balitanya yang mengalami stunting.

Oleh karena Indonesia telah masuk dalam lima besar di dunia sebagai negara dengan stunting terbanyak, maka pemerintah pun tidak tinggal diam. Dalam Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN), pemeritah menargetkan penurunan dari prevalensi stunting dari status awal 32,9 persen, turun menjadi 28 persen pada 2019 mendatang.

Negara Indonesia yang terdiri dari kepulauan juga membuat pemerintah membuat sebuah penetapan prioritas daerah yang ditangani pada tahap awal. Ada 100 kabupaten prioritas yang akan ditangani lebih dulu, baru kemudian 200 kabupaten lainnya.

“Tantangan pemerintah saat ini cukup besar, tingginya angka stunting menjadi indicator tingginya kejadian gizi buruk di negara ini,” jelas Siti Masrifah Chifa, anggota Komisi IX DPR RI dalam acara peringan Hari Gizi Nasional 2018 yang digelar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

(okezone.com)

Berita Terkait

Kesehatan

Kemendukbangga/BKKBN RI dan Komisi IX DPR RI Ajak Masyarakat Kampar Melek Isu Keluarga dan Stunting

Kesehatan

Legislator PKS Minta 30 Korporasi Karhutla Ditindak Tegas

Kesehatan

Ekosistem Kendaraan Listrik Didorong Tak Berhenti di Pabrik

Kesehatan

Open Turnamen Volleyball Putra Dandim Cup ke-8 Inhil Resmi Dibuka

Kesehatan

Markarius: Pemko Pekanbaru Komit Perkuat Ekosistem UMKM

Kesehatan

Borong 32 Emas di Kejurprov VIII Panahan Riau 2026, Pekanbaru Juara Umum